Saturday, June 25, 2016

Ekspresi Budaya Dari Negeri Mamala




Pendahuluan

Sejak dulu kala Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki kekayaan tradisi yang luar biasa banyak dan beragam. Keragaman tradisi tersebut didasarkan pada keragaman etnik dan budayanya yang tersebar di berbagai wilayah di Inonesia. Koentjaraningrat mengulas secara komprehensif tentang berbagai kebudayaan tersebut, seperti kebudayaan Batak, Ambon, Flores, Timor, Aceh, Minangkabau, Bugis-Makassar, Bali, Sunda, Jawa dan sebagainya.

Menurut Sahal Mahfudh bahwa seni budaya mempunyai proyeksi yang mengarah pada pencapaian kesadaran kualitas keberagamaan yang pada gilirannya mampu membentuk sikap dan prilaku Islami yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru memantapkan perkembangan sosial, dan sebagai sarana dakwah, seni budaya diarahkan pada pengisian makna dan nilai-nilai Islami yang integratif, ke dalam segala budaya yang dikembangkan.  Budaya adalah daya dari budi, yang berupa cipta, karsa dan rasa. Budaya merupakan perkembangan majemuk dari budi daya yang berarti daya dari budi.

Ekspresi Budaya Negeri Mamala

Adapun tentang budaya/adat yang dapat ditemukan pada masyarakat negeri Mamala tidak dapat dipisahkan dengan kepercayaan keagamaan, antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:

a.  Tari Dana-Dana, Seni budaya yang disebut Tari Dana-Dana, yang dapat dilakukan oleh beberapa wanita, ataupun laki-laki. tarian ini diiringi dengan pukulan rebana dan syair-syair lagu Arab. Tarian ini dilakukan ketika ada acara pernikahan atau acara lainnya. Tarian ini merupakan budaya import dari Arab yang sudah dijadikan sebagai budaya Islam negeri Mamala.

b. Seni budaya Tarian Sawat, tarian ini merupakan budaya Islam Maluku yang berada di negeri-negeri Islam, atraksi tarian ini menggunakan rebana atau konfigurasi rebana dan suling tanpa lagu. Musik rebana dan suling, diiringi dengan tarian yang disebut dengan manari sawat. Tarian ini dilakukan pada saat menjemput tamu, acara perkawinan, dan juga pada acara-acara adat lainnya.


 c. Seni budaya hadrat, sebagai salah satu budaya yang masih melekat di negeri-negeri Islam di Maluku. Budaya hadrat ini biasanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan, setelah shalat taraweh. Sebab dalam hadrat termuat bacaan, dan syair-syair Arab yang berisikan shalawat dan zikir.


 d. Seni budaya tarian Manu huai (Burung  bertengger), tarian ini dipentaskan pada menerima tamu-tamu atau para pejabat negera / provinsi atau juga pada saat melaksanakan upacara adat. Tarian ini juga menyambut para pahlawan-pahlawan / kapitan yang telah berhasil berjuang dalam medan pertempuran sehingga perlu dihargai dan dihormati dengan tarian adat ini.





 e. Tradisi lain yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa adalah malam 7 Likur yaitu malam dua puluh tujuh Ramadhan setiap tahun. Pada malam ini juga dilaksanakan hadrat yakni hadrat berdiri atau duduk. Dan diwajibkan, seluruh kasisi Masjid, Raja, kepala-kepala Soa adat, Imam dan stafnya membawakan hasil pertanian seperti buah-buahan dan berbagai macam kue basah atau kering ke mesjid dalam menyambut malam Lailatul-Qadar. Pada malam ini dilaksanakan shalat taraweh pada pukul 12.00. WIT, diawali dengan mengumandangkan azan oleh tiga orang mu'azin untuk shalat isya dan taraweh. Sebelum azan telebih dulu diadakan pasawale  setelah shalat semua buah-buahan dan kue tersebut dibagikan kepada anak-anak dan seluruh jama' di masjid. Sedikit berbeda suasana di dalam masjid, sebab dipasang kain putih yang panjang di atas saf pertama. Di malam ini masyarakat negeri Mamala percaya bahwa malam itu adalah malam Lailatul-Qadar.

 
f. Tarian Hu'ul, tarian ini yang menggambarkan masyarakat negeri Mamala yang masih hidup di gunung atau masyarakatnya yang asli (alifuru) yang masih hidup di hutan, yang belum beragama Islam. Kepercayan mereka dalam katagori  animisme dan dinamisme, mereka masih percaya kepada leluhur dan hal-hal yang diluar kemampuan manusia. Tarian hu'ul ini dilaksanakan pada saat upacara-upacara adat seperti pada upacara ritual ukuwala mahiate.
 

g. Tradisi tamat Quran, tradisi ini dilaksanakan pada saat anak-anak yang telah khatam Al-Quran di taman-tarnan pengajian Al-Qur'an yang berada di negeri Mamala. Khatam ini biasanya dilaksanakan oleh setiap taman pengajian yang murid-murid sudah menguasai membaca al-Qur’an  selama tiga kali atau lebih sesuai dengan penilaian dari seorang guru mengaji tersebut. Khatam ini dilaksanakan lebih dari 5-15 orang murid yang bergabung dan biaya pelaksanaannya ditanggung oleh orang tua murid mengaji.

h. Tradisi basunnat, adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan bagi orang tua untuk mengkhitankan anak-anaknya (anak laki-laki). Basunnat ini biasa dilaksanakan sendirian oleh orang tua tersebut dan juga ada gabungan anak-anak yang ada hubungan keluarga dekat untuk bersama-sama melaksanakan bassunat massal oleh keluarga tertentu.

i.  Tradisi aroha (manyiang), tradisi ini dilaksanakan pada bulan Rabbiul Awal, bulan dimana Rasulullah SAW, dilahirkan tepatnya tanggal 12 Rabbiul Awal yang dikenal dengan bulan Maulid Nabi SAW.

j. Upacara ritual ukuwala mahiate dilaksanakan setiap tahun tepatnva pada tanggal 8 Syawal di negeri Mamala, setelah mereka melaksanakan puasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa sunnah Syawal.