Senin, 15 Agustus 2016

Kekalahan Mengerikan di Tanah Hitu



Pendahuluan

Topik ini yang dipertimbangkan oleh Kapitan Tepil ketika berdiplomasi dengan Belanda. Bagian tulisan ini merupakan kelanjutan dari  “Hubungan Sejarah Tanah Hitu di Ambon dan Ternate” bagian dua, sekaligus menerangkan bagian tulisan dari “Gejolak Perlawanan di Tanah Hitu Tahun 1636-1637” . Hikayat Tanah Hitu-nya Imam Rijali menjadi bagian penting dalam topik ini, yang mengisahkan perubahan kebaikan Portugis yang kemudian menjadi bengis dan mengadakan aturan-aturan sendiri. Serta memperlihatkan kolaborasi para leluhur pejuang Tanah Hitu dengan leluhur pejuang yang berasal dari Banda, Huamual, Ternate,Tidore, Buru, Jawa dan lain-lain dalam melawan Portugis. (Lihat: Mamala-Amalatu, markas VOC pertama di Ambon). Bagian penjelasan dari tulisan ini merupakan kelanjutan dari "Perjuangan Melawan Portugis di Mamala "


Portugis di Tanah Hitu

Bangsa Eropa pertama yang menemukan Maluku adalah Portugis, pada tahun 1512. Pada waktu itu 2 armada Portugis, masing-masing dibawah pimpinan Anthony d'Abreu dan Fransisco Serau, mendarat di Kepulauan Banda dan Kepulauan Penyu. Setelah mereka menjalin persahabatan dengan penduduk dan raja-raja setempat - seperti dengan Kerajaan Ternate di pulau Ternate, Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng di Pikaoli, begitupula Negeri Hitu lama, dan Mamala di Pulau Ambon. Namun hubungan dagang rempah-rempah ini tidak berlangsung lama, karena Portugis menerapkan sistem monopoli sekaligus melakukan penyebaran agama Kristen. Salah seorang misionaris terkenal adalah Francis Xavier. Tiba di Ambon 14 Pebruari 1546, kemudian melanjutkan perjalanan ke Ternate, tiba pada tahun 1547, dan tanpa kenal lelah melakukan kunjungan ke pulau-pulau di Kepulauan Maluku untuk melakukan penyebaran agama. Persahabatan Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Peperangan dengan Sultan Babullah selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus angkat kaki dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.

Keuning (1973: 19-20) selanjutnya menjelaskan bahwa sejak tiba di Hitu dalam tahun 1512, orang-orang Portugis di bawah pimpinan d’Abrio dan Serroa disambut dan dijamu dengan ramah tamah oleh orang Hitu (uli lima) yang telah beragama Islam. Jumlah orang Portugis yang sedikit itu tidak dianggap sebagai ancaman, apalagi mereka segera pergi setelah tinggal beberapa lama. Maksud orang-orang Portugis itu hanyalah mencari rempah-rempah (cengkih dan pala), dan zaman itu mereka harus pergi ke Ternate, Tidore dan Banda. Dalam tahun 1525, barulah orang Portugis mendapat izin membangun sebuah rumah di pantai Hitu sebelah Utara, tepatnya di Hassamuling-tanjung Tetulaing (lokasinya berada di antara Mamala-Hitu). Tetapi, keadaan tersebut menjadi buruk ketika orang Portugis melanggar kedaulatan orang Hitu yakni ketika mereka hendak membangun sebuah benteng dan mengadakan peraturan-peraturan sendiri. Orang Hitu menolaknya dan menghendaki orang Portugis meninggalkan wilayah mereka dan tinggal di antara orang-orang uli siwa (cikal bakal benteng Victoria). Sejak itu pula terjadi pengkristenan orang uli siwa di Leitimor oleh Portugis. Orang-orang uli siwa ini meminta dibaptis menjadi Kristen oleh orang Portugis dengan harapan akan mendapat bantuan terhadap penyerbuan orang uli lima tersebut. Keuning mencatat bahwa abad ke 16 bagi Ambon bukanlah zaman yang damai. Adanya orang Portugis pada umumnya merupakan faktor yang mengganggu suasana, terutama di Leitimor. Kehadiran mereka memperuncing pertentangan lama (tradisional) antara uli iwa dan uli lima, dan membagi seluruh negeri dalam dua kelompok kekuatan yang terus menerus saling memerangi.

Cuplikan “Hikayat Tanah Hitu”

Alkissah peri mengatakan johan pahlawan gimelaha Rubohongi. Ia datang akan bendahara di tanah Ambon serta kaum gulawarganya gimelaha Haji dan gimelaha Sakatruana. Lain daripada itu tiada kuceriterakan sehingga ibn bendahara: pertama gimelaha Kakasingku* dan (kedua) gimelaha Jamali dan (ketiga) gimelaha Kulabu dan keempat gimelaha Aja dan kelima gimelaha Basi dan keenam gimelaha Angsari*. Itulah daripada pihak bendahara.

Maka datang kepada kerabat serri sultan daripada bangsya raja: pertama kiyaicili* Cuka, kedua cili Kodrat, ketiga cili Abu Syahid dan keempat cili Kaba, kelima cili Naya, keenam cili Ici dan ketujuh cili Aya, kedualapan baginda cili Ali, tatkala bulum lagi dinaikan kapitan laut, lain daripada itu tiada kusubutkan. Dan daripada pihak hamba raja pertama Kalaudi dan kedua Usman dan ketiga Kabutu Malu dan keempat Sagaluwa*, kelima Sibangua, keenam Ambalau. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan sekalian ini termasyhur pendagar. Pun ia utusan, pun ia pergi datang berulang-ulang membawah titah sebagailah, karena pada tatkala itu sangat parang sabil Allah di tanah Ambon. Ada parang di darat, ada parang di laut, ada mennang, ada yang dimennang, ada disarang, ada yang menyarang, sebagailah kedua pihak itu tiada berputusan lagi. Segali perastawa gimelaha Kakasingku* keluar dengan kelengkapannya, maka ia bertemu dengan angkatan Nasrani di tanjung Mamala.

Lalu melawanlah kedua angkatan itu daripada waktu duha sehingga datang kepada bakda lohor. Serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi sekali-kali dengan kelengkapannya dan mayitnya perdana Kakasingku* pun sabil Allah tiada kettahuan lagi. Kemudian daripada itu dan kuceriterakan, sekalian keluar dengan kelengkapannya mendattangi sebuah negeri, Latu namanya. Maka datang angkatan kafir laknat bantu kepada negeri itu. Maka kedua pihak berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian jualbeli. Hatta datang malam masing-masing pulang kepada tempatnya. Apabila datang esok harinya demikian juga, tiada berputusan berkawal-kawal kedua tentara itu. Hatta datang kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala kepada pihak Islam itu pergi barjalan ke sini dan orang kawal itu pun serta dengan alpanya ia tidur. Maka dipandang oleh kafir laknat tempat itu sunyi dan kotanya itu pun tiada manusyia, lalu ia masuk. Laknat itu alah kepada kota Islam itu.

Dan orang sekalian itu pun lari masing-masing membawah dirinya sehingga gimelaha Jamali al-Din, dua bersyaudara gimelaha Angsari* dan Liwa al-Din, hoja* alim mahudum*: ketiganya syahid, karena Jamali al-Din itu pahlawan yang termasyhur, ketiganya pendagar parang. Daripada itulah maka tiada berpaling apa tipu orang banyak serta dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi daripada kesudahan hidup manusyia dalam negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Dan Kalaudi pun dengan kelengkapannya masuk, maka ia bertemu kepada kafir laknat itu, maka ia syahid serta kelengkapannya pada ketika itu juga. Maka angkatan itu sekalian kembali masing-masing ke negerinya. Alkissah peri mengatakan parang kiyai Mas. Tatkala perdana Tubanbesi belayar ke tanah Jawa mengadap kepada pangngeran minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama, maka pangeran menyuruh kepada kiyai Mas serta kelengkapannya. Dan panglimanya yang gaggah dalam angkatan itu Martajiwa namanya dan seorang Panarukan namanya dan seorang pula Pasiruwan* namanya. Hatta ia datang ke tanah Hitu dan orang Hitu pun keluar angkatan serta ia mendatangi negeri kafir itu, lalu masuk ke dalam negeri.

Maka negeri ke dalam kotanya dan orang itu pun mengikut belakangnya sehingga datang ke pintu kotanya. Maka panglimanya yang gaggah itu syahid, maka patah parang Islam itu. Ia undur lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke negeri Hitu. Hatta datang musim, maka ia belayar kembali ke tanah Jawa. Itulah kesudahan parang kiyai Mas di tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Alkissah dan kuceriterakan yang empunya ceritera, sekali perastawa keluar angkatan Islam mendatangi negeri kafir dan angkatan kafir pun keluar. Maka kedua angkatan itu sama bertemu di tengah jalan antaranya Hitu dan Kota Laha. Maka kedua pihak berhadapan seperti orang berhadapan serta dengan hidangan karena sangat maksud Islam ke sana kepada kafir laknat itu. Sebab pada ketika itu baginda cili Cuka ia menjadi kapitan laut, sendirinya memeggang panji-panji serta membaca salawat.

Lalu bertempik kedua pihak itu seperti datang tofan bakilat-kilat dan bunyi senjatanya diupamakan guruh dari atas langit dan asapnya senjata itu menjadi awan antara langit dan bumi. Dan parangnya itu daripada waktu duha sehingga datang kepada waktu asar. Hatta dengan ajal Allah, maka baginda kiyaicili pun syahid. Dan daripada orang luka dan mati itu tiada kuceriterakan, daripada ajal itulah meneguhkan hati manusyia serta memberikan kesudahannya. Ada pun dalam angkatan kafir itu pun demikian juga luka dan mati, lalu undurlah keduanya angkatan itu. Islam pun dukacitta hatinya dan Nasrani pun demikian lagi. Masingmasing pulang kepada tempatnya. Itulah hal parang sabil Allah.

Alkissah dan kuceriterakan johan pahlawan Tahalele ke tanah Bandan*minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka negeri Bandan* sekalian keluar angkatan ke tanah Hitu. Entah berapa aluannya, tetapi penghulu yang besar dalam angkatan itu pertama kapitan Falat, kedua kapitan Atijauh, ketiga orangkaya Watimena dan raja Rosengaing*. Hatta berapa lamanya datangnya itu dan negeri Hitu pun keluar angkatan serta dia bersama-sama mendatangi kafir laknat itu dan kafir itu pun keluar angkatan. Hatta terbit fajar kepada bakda subuh keluarlah kedua pihak angkatan itu berlawanlah dan bunyi senjata itu tiada dapat dikatakan. Asapnya itu menjadi awan menudung kepada kedua angkatan itu tiada berkenalan. Hatta hilang awan itu, maka dilanggar sebuah kapal, lalu patah parang kafir itu dan angkatan Islam itu kembali serta kemenangannya, makan-minum bersukasukaan.

Kemudian daripada itu pergi alah kepada negeri, Tuhahan* namanya, maka ia kembali ke negeri Hitu. Hatta datang musim, lalu pulang ke tanah Bandan. Kemudian daripada itu datang pula angkatan itu ke tanah Hitu, tetapi tiada masyhur parangnya itu. Sehingga datang musim ia pulang. Itulah kesudahan tanah Bandan* datang ke tanah Hitu tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Alkissah dan kuceriterakan oleh yang empunya ceritera sekali perastawa orang Hitu keluar dengan kelengkapannya. Dan angkatan Ferangi pun keluar sama bertemu di pantai Kota Laha, maka melawanlah kedua angkatan itu. Pada mati dan luka itu tiada dikira-kirakan lagi. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala sebuah kelengkapan Islam, hulubalang Pati Lihat namanya, tebakar oleh api obat bedil sendirinya. Maka didapat oleh kafir laknat itu, lalu undurlah kelengkapan Islam itu kembali dengan dukkacittanya. Ada pun pada ketika itu ada juga suruan pangeran. Ia membuat kota di pantai sebelah berhadapan kota Ferangi. Itu pun tiada juga jadi kota, itu bukan dialah oleh Ferangi, ia meninggal sendirinya pulang ke negeri Hitu.

Hatta lama dengan lamanya sebagai juga tiada berputusan parang sabil Allah. Segali perastawa keluar angkatan kafir laknat itu serta orang Tidore dan orang Buru mendatangi di negeri Hitu dan orang Hitu pun harkat menanti di pantai. Hatta datang angkatan itu lalu turun, maka hulubalang Ulu Ahutan ia becakap di hadapan orang sekalian: ‘Jangan dahulu orang keluar, biarlah aku sendiri keluar dahulu. Apabila tiada patah orang itu, tuhan-tuhan sekalian keluar.’ Lalu ia bertempik ke dalam tentara kafir itu serta menettak, maka patah parang laknat itu. Masing-masing lari terjung ke dalam air berenang kepada tempatnya sehingga hulubalang Sulaiman: maka ia tiada paling mukanya, maka ia bertankis-tankisan dengan perisainya serta undur datang kepada air sehingga lututnya, lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Tellah demikian itu dan kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Rubohongi ia pulang ke rahmat Allah meninggalkan negeri fanah datang kepada negeri yang baka. Maka dihabarkan orang kepada kafir laknat itu, lalu ia keluar angkatan. Kehendak kafir itu menggagahi akan mayit bendahara itu, tetapi tiada dapat lagi, sebab sudah dipindahkan ke Tanah Besar. Lalu ia menyerrang kepada negeri Hitu.

Tatkala itu sekalian hulubalang serta pendagar semuanya tiada, sehingga Jumat pahlawan al-Din ada,tetapi ia dalam uzur. Maka pada ketika itulah perdana Kapitan Hitu memagang senjata, ia masuk parang kepada tentara kafir itu. Hatta seketika juga patah parang kafir laknat itu, lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Itulah parang sabil di tanah Ambon, sungguh pun disubut tanah Ambon, tetapi tanah Hitu juga parang siang dan malam tiada berputusan. Kadang-kadang Tanah Besar masuk kepada parang. Sebab itulah maka dikatakan tanah Hitu di belakang perisyai dan Tanah Besar di dalam perisyai. Karena tatkala zaman parang itu hulubalang dan pendagar ada semuhanya -- pertama Ulu Ahutan, kedua hulubalang Hasan Pati, ketiga hulubalang Hatib Tunsulu,keempat Pati Baraim, kelima Umar pendagar, keenam Mahir pendagar, ketujuh pendagar Nahoda, kedualapan pendagar Nasiela -- hulubalang yang termasyhur dalam tanah Hitu. Lain daripada itu tiada kusubutkan melainkan Jumat, pahlawan al-Din. Ialah yang termasyhur pendagarnya dan terlalu amat gagahnya daripada sekalian.

Itulah sangat parang sabil Allah di tanah Hitu. Dan kuceriterakan hulubalang kafir laknat itu pertama Don Duarde, kedua kapitan Sanco*, ketiga Paulo Kastanya dan Dan Tamura dan Dirgurumaridisi dan Siku Kisua dan Don Disera* dan Fernando Melo* dan Antoni Laliru. Lain daripada itu tiada kuceriterakan, sehingga inilah dimasyhurkan sangat parang kafir di tanah Ambon. Tatkala pada zaman itu alah menang sama kedua pihak itu. Kuceriterakan menang Islam kepada kafir itu: sekali alah sebuah kapal di tanah Bandan, kedua sebuah di pantai Hitu dan ketiga sebuah serta angkatan Bandan* dan keempat langgar kepada pinsu* dan kelima langgar kepada antonibot*. Lain daripada itu tiada kuceriterakan. Dan menang kafir kepada Islam pun demikian lagi, karena parang sabil di tanah Ambon itu tujuh puluh tahun daripada parang Don Duarde sehingga datang parang Antoni Furtado*. Tatkala belum lagi datang Furtado itu, maka datang sebuah kapal Wolanda. Ia masuk ke Hitu, maka orang Hitu tanya kepadanya:‘Darimana datangmu dan apah nama negerimu?’

Maka ia menyahut: ‘Kami datang dari negeri Hollandes* dan nama raja kami “Paringsi*”.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bolehkah kami minta armada tolong kepada kami?’ Maka kata orang itu: ‘Mengapah maka tiada boleh?

Penutup

Kebaikan para leluhur di Tanah Hitu khususnya Mamala dimanfaatkan oleh Portugis. Mengusir Portugis dari Tanah Hitu merupakan perjuangan yang panjang dan mengorbankan banyak korban jiwa dan harta. Berbagai peristiwa di atas menjadi acuan Kapitan Tepil saat berdiplomasi dengan Belanda kemudian.

Sabtu, 23 Juli 2016

Membangun Kepariwisataan di Negeri Mamala (Ambon)




Pendahuluan

Selama ini negeri Mamala hanya dikenal karena keberadaan “Atraksi Pukul Sapu” dan  kemujaraban “Nyuwelain Matehu atau Minyak Mamala” yang dilakukan setiap 8 Syawal.  Keberadaan momen syawalan tersebut bahkan telah menjadi salah satu ikon pariwisata di Maluku. Dalam hal ini, acara syawalan tersebut masuk dalam kategori wisata berbasis budaya. Wisata berbasis budaya adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata yang menggunakan kebudayaan sebagai objeknya. Pariwisata jenis ini dibedakan dari minat-minat khusus lain, seperti wisata alam, dan wisata petualangan. Kebudayaan, wisata alam dan wisata petualangan merupakan tiga hal penting yang dimiliki oleh Mamala, selain faktor penunjang ketiga hal tersebut terdapat hal terpenting yang menunjang ketiganya yakni kemudahan dalam jangkauan dari kota Ambon, apalagi setelah terdapat Jembatan Merah Putih. 


Keragaman flora di Way Solopay (Air Besar di Mamala)

Pariwisata

Kenapa harus  pariwisata? Pembangunan kepariwisataan pada umumnya diarahkan sebagai sektor andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan daerah, memberdayakan perekonomian masyarakat, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, serta meningkatkan pengenalan dan pemasaran produk dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan kawasan wisata harus merupakan pengembangan yang terencana secara menyeluruh sehingga dapat diperoleh manfaat yang optimal bagi masyarakat.

Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menjelaskan bahwa pembangunan kepariwisataan diperlukan untuk mendorong pemerataan kesempatan berusaha dan memperoleh manfaat serta mampu menghadapi tantangan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Yang dimaksud pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.

Sumber Daya Pariwisata

Sumber daya yang terkait dengan pengembangan pariwisata umumnya berupa sumber daya alam dan sumber daya budaya, di samping sumber daya manusia. Orang ataupun organisasi menggunakan sumber daya untuk beragam kegiatan pariwisata. Misalnya, di tempat kerja operator pariwisata digunakan sumber daya manusia (tenaga kerja), fasilitas dan peralatan (sumber daya fisik), menyediakan atraksi budaya sebagai daya tarik wisata (sumber daya budaya), dan menjual pemandangan alam sebagai atraksi wisata (sumber daya alam). Muaranya sebenarnya sama, yaitu bagaimana menggunakan sumber daya, baik secara individual maupun kombinasinya untuk memuaskan keinginan wisatawan yang beragam sesuai harapan.

Sumber Daya Alam

Elemen dari sumber daya, misalnya, air, pepohonan, udara, hamparan pegunungan, pantai, bentang alam, dan sebagainya, tidak akan menjadi sumber daya yang berguna bagi pariwisata kecuali semua elemen tersebut dapat memuaskan dan memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karenanya, sumber daya memerlukan intervensi manusia untuk mengubahnya agar bermanfaat. Unsur-unsur alam sebenarnya bersifat netral sampai manusia mentransformasikannya menjadi sumber daya. Hal ini juga dipengaruhi oleh budaya yang menentukan siapa yang menggunakan sumber daya dan bagaimana sumber daya tersebut digunakan.



Menurut Damanik dan Weber (2006) dalam Pengantar Ilmu Pariwisata, sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata alam adalah :
a. Keajaiban dan keindahan alam (topografi)
b. Keragaman flora
c. Keragaman fauna
d. Kehidupan satwa liar
e. Vegetasi alam
f. Ekosistem yang belum terjamah manusia
g. Rekreasi perairan (danau, sungai, air terjun, pantai)
h. Lintas alam (trekking, rafting, dan lain-lain)
i. Objek megalitik
j. Suhu dan kelembaban udara yang nyaman
k. Curah hujan yang normal, dan lain sebagainya.


 

Sumber daya alam dari negeri Mamala yang paling menonjol adalah rekreasi perairan khususnya keberadaan sungai (way ela / air besar way Solopay) yang membentang di dari perairan pantai Mamala sampai ke daratan Mamala yang berbukit. Di bagian atas perbukitan tersebut air besar  bercabang dua. Sepanjang aliran air besar tersebut banyak memperlihatkan keindahan panorama alam yang luar biasa.



Keberadaan muara nya yang disebut "Tetui Hiti Latu" menjadikannya sebagai destinasi  "Komunitas Pencinta Alam & Komunitas di Pulau Ambon" sebagai lokasi perkemahan wisata.

Dokumentasi video Survei Kegiatan Komunitas Rakyat Kuasa April 2016 (created by L. Wattimena)

Selain keindahan panorama sepanjang air besarnya, negeri Mamala mempunyai objek megalitik yang berkaitan erat dengan sumber daya budayanya, yakni dengan keberadaan batu pamali (Hatu Tihal) dari negeri Mamala, mulai dari situs batu pamali dari marga-marga yang ada di negeri Mamala, hingga keberaadaan batu pamali untuk baileo dan negeri.

Batu Pamali (Hatu Tihal) Marga Mony di Wakalau (Mamala-Amalatu)

Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia diakui sebagai salah satu komponen vital dalam pembangunan pariwisata. Hampir setiap tahap dan elemen pariwisata memerlukan sumber daya manusia untuk menggerakkanya. Singkatnya faktor sumber daya manusia sangat menentukan eksistensi pariwisata. Sebagai salah satu industri jasa, sikap dan kemampuan staff akan berdampak terhadap bagaimana pelayanan pariwisata diberikan kepada wisatawan yang secara langsung akan berdampak pada kenyamanan, kepuasan dan kesan atas kegiatan wisata yang dilakukannya.

Sumber Daya Budaya

Budaya sangat penting perannya dalam pariwisata. Salah satu hal yang menyebabkan orang ingin melakukan perjalanan wisata adalah adanya keinginan untuk melihat cara hidup dan budaya orang lain di belahan dunia lain serta keinginan untuk mempelajari budaya orang lain tersebut. Industri pariwisata mengakui peran budaya sebagai faktor penarik dengan mempromosikan karakteristik budaya dari destinasi. Sumber daya budaya dimungkinkan untuk menjadi faktor utama yang menarik wiasatawan untuk melakukan perjalanan wisatanya.


 Istilah “budaya” bukan saja merujuk pada sastra dan seni, tetapi  juga pada keseluruhan cara hidup yang dipraktekkan manusia dalam  kehidupan sehari-hari yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, serta mencakup pengertian yang luas dari gaya hidup. Dalam pariwisata, jenis pariwisata yang menggunakan sumber daya budaya sebagai modal utama dalam atraksi wisata sering dikenal sebagai pariwisata budaya. Jenis pariwisata ini memberikan variasi yang luas menyangkut budaya mulai dari seni pertunjukkan, seni rupa, festival, makanan tradisional, sejarah, pengalaman nostalgia, dan cara hidup yang lain. Pariwisata budaya dapat dilihat sebagai peluang bagi wisatawan untuk mengalami, memahami, dan menghargai karakter dari destinasi, kekayaan dan keragaman budayanya. Pariwisata budaya memberikan kesempatan kontak pribadi secara langsung dengan masyarakat lokal dan kepada individu yang memiliki pengetahuan khusus tentang sesuatu objek budaya. Salah satu objek budaya yang ada di negeri Mamala adalah baileo adat Hatusela, yang bernilai historis dan mewakili simbol adat masyarakat Ambon pada umumnya.  Tujuannya adalah memahami makna suatu budaya dibandingkan dengan sekedar mendeskripsikan atau melihat daftar fakta yang ada mengenai suatu budaya.

Potensi budaya yang dapat dilestarikan di negeri Mamala, selain keberadaan “Atraksi Pukul Sapu” dan “Nyuwelain Matehunya / Minyak Mamala”, adalah dengan keberadaan perjalanan transformasi budaya dari Uli Siwa menjadi Uli Lima yang merupakan bagian dari filosofis pemerintah provinsi Maluku yakni Siwalima.

Penutup 
Kesemua potensi ini merupakan aset yang dapat dijadikan modal dalam membangun “kepariwisataan” di negeri Mamala, yang didukung kemudahan dalam jangkauannya.









Sabtu, 25 Juni 2016

Ekspresi Budaya Dari Negeri Mamala




Pendahuluan

Sejak dulu kala Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki kekayaan tradisi yang luar biasa banyak dan beragam. Keragaman tradisi tersebut didasarkan pada keragaman etnik dan budayanya yang tersebar di berbagai wilayah di Inonesia. Koentjaraningrat mengulas secara komprehensif tentang berbagai kebudayaan tersebut, seperti kebudayaan Batak, Ambon, Flores, Timor, Aceh, Minangkabau, Bugis-Makassar, Bali, Sunda, Jawa dan sebagainya.

Menurut Sahal Mahfudh bahwa seni budaya mempunyai proyeksi yang mengarah pada pencapaian kesadaran kualitas keberagamaan yang pada gilirannya mampu membentuk sikap dan prilaku Islami yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru memantapkan perkembangan sosial, dan sebagai sarana dakwah, seni budaya diarahkan pada pengisian makna dan nilai-nilai Islami yang integratif, ke dalam segala budaya yang dikembangkan.  Budaya adalah daya dari budi, yang berupa cipta, karsa dan rasa. Budaya merupakan perkembangan majemuk dari budi daya yang berarti daya dari budi.

Ekspresi Budaya Negeri Mamala

Adapun tentang budaya/adat yang dapat ditemukan pada masyarakat negeri Mamala tidak dapat dipisahkan dengan kepercayaan keagamaan, antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:

a.  Tari Dana-Dana, Seni budaya yang disebut Tari Dana-Dana, yang dapat dilakukan oleh beberapa wanita, ataupun laki-laki. tarian ini diiringi dengan pukulan rebana dan syair-syair lagu Arab. Tarian ini dilakukan ketika ada acara pernikahan atau acara lainnya. Tarian ini merupakan budaya import dari Arab yang sudah dijadikan sebagai budaya Islam negeri Mamala.

b. Seni budaya Tarian Sawat, tarian ini merupakan budaya Islam Maluku yang berada di negeri-negeri Islam, atraksi tarian ini menggunakan rebana atau konfigurasi rebana dan suling tanpa lagu. Musik rebana dan suling, diiringi dengan tarian yang disebut dengan manari sawat. Tarian ini dilakukan pada saat menjemput tamu, acara perkawinan, dan juga pada acara-acara adat lainnya.


 c. Seni budaya hadrat, sebagai salah satu budaya yang masih melekat di negeri-negeri Islam di Maluku. Budaya hadrat ini biasanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan, setelah shalat taraweh. Sebab dalam hadrat termuat bacaan, dan syair-syair Arab yang berisikan shalawat dan zikir.


 d. Seni budaya tarian Manu huai (Burung  bertengger), tarian ini dipentaskan pada menerima tamu-tamu atau para pejabat negera / provinsi atau juga pada saat melaksanakan upacara adat. Tarian ini juga menyambut para pahlawan-pahlawan / kapitan yang telah berhasil berjuang dalam medan pertempuran sehingga perlu dihargai dan dihormati dengan tarian adat ini.





 e. Tradisi lain yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa adalah malam 7 Likur yaitu malam dua puluh tujuh Ramadhan setiap tahun. Pada malam ini juga dilaksanakan hadrat yakni hadrat berdiri atau duduk. Dan diwajibkan, seluruh kasisi Masjid, Raja, kepala-kepala Soa adat, Imam dan stafnya membawakan hasil pertanian seperti buah-buahan dan berbagai macam kue basah atau kering ke mesjid dalam menyambut malam Lailatul-Qadar. Pada malam ini dilaksanakan shalat taraweh pada pukul 12.00. WIT, diawali dengan mengumandangkan azan oleh tiga orang mu'azin untuk shalat isya dan taraweh. Sebelum azan telebih dulu diadakan pasawale  setelah shalat semua buah-buahan dan kue tersebut dibagikan kepada anak-anak dan seluruh jama' di masjid. Sedikit berbeda suasana di dalam masjid, sebab dipasang kain putih yang panjang di atas saf pertama. Di malam ini masyarakat negeri Mamala percaya bahwa malam itu adalah malam Lailatul-Qadar.

 
f. Tarian Hu'ul, tarian ini yang menggambarkan masyarakat negeri Mamala yang masih hidup di gunung atau masyarakatnya yang asli (alifuru) yang masih hidup di hutan, yang belum beragama Islam. Kepercayan mereka dalam katagori  animisme dan dinamisme, mereka masih percaya kepada leluhur dan hal-hal yang diluar kemampuan manusia. Tarian hu'ul ini dilaksanakan pada saat upacara-upacara adat seperti pada upacara ritual ukuwala mahiate.
 

g. Tradisi tamat Quran, tradisi ini dilaksanakan pada saat anak-anak yang telah khatam Al-Quran di taman-tarnan pengajian Al-Qur'an yang berada di negeri Mamala. Khatam ini biasanya dilaksanakan oleh setiap taman pengajian yang murid-murid sudah menguasai membaca al-Qur’an  selama tiga kali atau lebih sesuai dengan penilaian dari seorang guru mengaji tersebut. Khatam ini dilaksanakan lebih dari 5-15 orang murid yang bergabung dan biaya pelaksanaannya ditanggung oleh orang tua murid mengaji.

h. Tradisi basunnat, adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan bagi orang tua untuk mengkhitankan anak-anaknya (anak laki-laki). Basunnat ini biasa dilaksanakan sendirian oleh orang tua tersebut dan juga ada gabungan anak-anak yang ada hubungan keluarga dekat untuk bersama-sama melaksanakan bassunat massal oleh keluarga tertentu.

i.  Tradisi aroha (manyiang), tradisi ini dilaksanakan pada bulan Rabbiul Awal, bulan dimana Rasulullah SAW, dilahirkan tepatnya tanggal 12 Rabbiul Awal yang dikenal dengan bulan Maulid Nabi SAW.

j. Upacara ritual ukuwala mahiate dilaksanakan setiap tahun tepatnva pada tanggal 8 Syawal di negeri Mamala, setelah mereka melaksanakan puasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa sunnah Syawal.