Senin, 14 September 2015

Keindahan Negeri Lama Mamala Yang Terlupakan


Pendahuluan



Sebagai bangsa Indonesia sudah sepatutnya kita berbangga dengan beragam kekayaan pariwisata Indonesia yang sangat mempesona dan indah yang membuat negara lain iri. Indonesia yang kaya akan berbagai destinasi wisata laut, gunung, kuliner, kebudayaan menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan wisata favorit di dunia saat ini, dan salah satu destinasi wisata di indonesia yang wajib anda coba adalah yakni destinasi wisata gunung. Bagi anda pecinta wisata gunung dan gemar berpetualang menikmati pemandangan gunung yang eksotis dengan udara sejuk, Indonesia juga memiliki beberapa wisata gunung yang sayang untuk anda lewatkan.

Beberapa destinasi wisata gunung di Indonesia akan memberikan anda pengalaman istimewa dan mengasikkan dimana anda dapat berpetualang melintasi hutan dan berhiking ria untuk mencapai puncak serta menikmati pemandangan indah dibawah gunung yang akan membuat bulu kuduk anda merinding bahagia dengan kesuksesan anda meraih puncak dengan segala usaha dan jerih payah anda untuk kesana. Nah bagi anda pecinta alam dan penggemar wisata gunung, berikut beberapa Destinasi Wisata Gunung eksotis favorit di Indonesia yang sayang dilewatkan


Penjabaran kali ini sebenarnya merupakan penyempurnaan dari tulisan yang telah ada. Tujuannya adalah menjelaskan bahwa negeri Mamala yang ditempati sekarang sebenarnya adalah negeri yang baru, sekaligus membuktikan bahwa sejarah negeri Mamala bukan hanya dongeng semata, namun setelah direkeyasa dengan referensi yang memang nyata, maka dapat disimpulkan jika sejarah negeri Mamala adalah realita bukanlah hanya cerita fiktif. Setelah membaca Sejarah Tebentuknya negeri Mamala, Negeri Mamala Amalatu dan Istilah Teon Negeri, Selayang Pandang Sejarah Negeri Mamala, Latar Belakang Sejarah Negeri Mamala dan Negeri Morela, Pemahaman Sejarah Negeri Mamala dan Negeri Morela yang terlewatkan, Hubungan Negeri-Negeri Dalam Uli Sailesi Dengan Negeri Mamala dalam Filsafat Siwalima, maka banyak menimbulkan tanda tanya di manakah sebenarnya letak negeri lama Mamala itu? Penjabaran kali ini sekaligus upaya untuk memuaskan rasa keingintahuan di mana kiranya letak negeri Lama Mamala yang di maksud.

Keindahan Negeri Lama Mamala Yang Terlupakan

Bukan hanya karena hasil rempah-rempahnya maka Maluku di kenal dunia, sehingga akhirnya kita semua mengalami penjajahan dari bangsa-bangsa eropa secara bergantian seperti Portugis, Belanda, dan Inggris. Namun bukan hanya karena karena hasil rempah-rempahnya yang membuat mereka tertarik, tetapi juga dengan kekayaan dan keindahan alam sekitarnya baik laut darat.

Gbr. Sketsa Pulau Ambon periode tahun 1600-1630

Dahulu hal ini patut disyukuri mengingat komoditas rempah-rempah ini sempat menjadi lumbung emasnya orang Maluku pada abad-abad sebelumnya, namun berhubung sekarang telah banyak  dibudi dayakan di beberapa daerah lain di Indonesia, maka komoditi yang dulunya kita banggakan sekarang telah mengalami penurunan, seperti kita ketahui bersama bagaimana kondisi harga komoditas yang kita banggakan  akhir-akhir ini.

Gbr Sketsa Negeri Mamala periode tahun 1600-1630

Namun sebenarnya masih ada beberapa hal penting yang patut kita kembangkan, yaitu potensi pariwisata yang berhubungan dengan keindahan laut dan darat bahkan kebudayaan yang kita miliki bersama. Kalau sekarang mungkin sudah banyak yang rusak namun sebaiknya kita jaga dan di usahakan kembali untuk di lestarikan bersama.

Sumber: http://www.atlasofmutualheritage.nl/nl/Gezicht-Capha-Mamalo-expeditie-A.-Gijsels.6515

Khusus kepada orang Negeri Mamala pasti banyak yang tidak menyadari hal-hal yang terkait keindahan-keindahan alam yang di milikinya berhubung sejak kepindahannya ke daerah yang baru sekarang ini . Hal-hal apa saja yang menarik, tentunya harus dibuktikan tentunya. Gambar di atas adalah lukisan dari A.Gijsels yang melakukan ekspedisi pada rentang tahun 1631-1635.

Dalam bukunya Verbeek, Rogier Diederik Marius. (2013). pp. 16-7. Description Géologique de L'Île d'Ambon. London: Forgotten Books. (Original work published 1906), menyebutkan bahwa di Negeri Mamala yang Lama dan Pegunungan Salahutu terdapat obyek pariwisata yang indah. Cooley (1987) mengatakan bahwa, negeri lama adalah negeri pertama yang ditempati oleh  warga dan letaknya di pegunungan. Mari kita lestarikan keindahan tersebut. Sekaligus menjadikan monumen bersejarah bahwa  di situlah dahulu para leluhur orang Mamala pernah hidup di sana.

Dokumen yang Menerangkan Lokasi Negeri Lama Mamala

Penutup

Setelah menelusuri arti “sejarah” yang dikaitkan dengan arti kata “syajarah” dan dihubungkan dengan pula dengan kata “history”, bersumber dari kata “historia” (bahasa Yunani kuno) dapat disimpulkan bahwa arti kata sejarah sendiri sekarang ini mempunyai makna sebagai cerita, atau kejadian yang benar-benar telah terjadi pada masa lalu. Sunnal dan Haas (1993: 278) menyebutnya; “history is a chronological study that interprets and gives meaning to events and applies systematic methods to discover the truth”. Carr (1982: 30). menyatakan, bahwa “history is a continous process of interaction between the historian and his facts, and unending dialogue between the present and the past”. Kemudian disusul oleh Depdiknas memberikan pengertian sejarah sebagai mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia dari masa lampau hingga kini (Depdiknas, 2003: 1). Namun yang jelas kata kuncinya bahwa sejarah merupakan suatu penggambaran ataupun rekonstruksi peristiwa, kisah, maupun cerita, yang benar-benar telah terjadi pada masa lalu.

Bury (Teggart, 1960: 56.) secara tegas menyatakan “History is science; no less, and no more”. Sejarah itu adalah ilmu, tidak kurang dan tidak lebih. Pernyataan ini mungkin tidak bermaksud untuk memberikan penjelasan batasan tentang sesuatu konsep, melainkan hanya memberikan tingkat pengkategorian sesuatu ilmu atau bukan. Penjelasan tersebut jelas tidak memadai untuk untuk memperoleh sesuatu pengertian. Definisi yang cukup simple dan mudah dipahami diperoleh dari Carr (1982: 30). yang menyatakan, bahwa “history is a continous process of interaction between the historian and his facts, and unending dialogue between the present and the past”..


Sabtu, 12 September 2015

Pemahaman Sejarah Negeri Mamala dan Negeri Morela yang terlewatkan




Pendahuluan

Ketika menjelang pelantikan Raja Negeri Mamala, Bapak Ramli Malawat pada tanggal 6 Juni 2015, sejumlah persiapan dilakukan termasuk untuk persiapan prosesi adat di Negeri Mamala dan Negeri Morela. Namun menjelang malam rencana prosesi menjadi kacau akibat tidak adanya titik temu dalam penafsiran realitas sejarah kedua negeri. Masalah yang utama bersumber dari tentang prosesi adat yang sudah baku dilakukan selama ini ditolak dengan keinginan untuk merubah prosesi adat yang telah ada, dengan memaksakan peletakan Mahkota Raja Mamala di Baileo Negeri Morela oleh Raja Morela dengan alasan bahwa yang mengangkat Raja Negeri Mamala secara adat adalah ketiga orang Penghulu Negeri yang disebut Hitiy, Tuhe, dan Meten; ketiganya berasal dari Negeri Morela. Olehnya dirasakan perlu kepada kita semua untuk mengkaji kenapa setelah prosesi adat Raja Negeri Mamala di Hatu Hitiy Latu, beliau harus berjalan dari Wayume (Negeri Mamala) menuju Waytua (Negeri Morela sekarang)? Apakah ketiga Penghulu ini orang dari Negeri Morela? Dan menjelaskan perbedaan penafsiran antara Negeri Hausihol dahulu dan Negeri Morela sekarang, sehingga hal ini dapat menjadi sumber penyelesaian konflik berkepanjangan antara orang Mamala dan orang Morela.

 Masalah yang utama bersumber dari tentang prosesi adat yang sudah baku dilakukan selama ini ditolak dengan keinginan untuk merubah prosesi adat yang telah ada, dengan memaksakan peletakan Mahkota Raja Mamala di Baileo Negeri Morela oleh Raja  Morela

Latar Belakang Negeri Hausihol

Dalam berbagai referensi mulai abad XVII baik Rumphius, Francois Valentijn serta Imam Rijali, nama negeri Morela tidak pernah disebut. Yang ada hanya Negeri Hausihol atau Bukit / Benteng Kapahaha. Bahkan Valentijn menyebutkan sebagai Negeri yang besar dengan banyak orang kaya di dalamnya bahkan disebutkannya terdiri dari tiga kampung. Kampung Tomasiwa di bawah kepemimpinan Oemarela, Kampung Telleboang di bawah kepemimpinan Bessihatoe, dan Kampung Hetalessi di bawah kepemimpinan Hatoemelebessi.  Termasuk di dalamnya adalah Pahlawan Nasional Maluku, leluhur kita semua yakni Kapitan Tulukabessy yang merupakan pemimpin di Bukit Kapahaha. Negeri Hausihol dikatakan terletak di kaki bukit / Benteng Kapahaha.

Lokasi Negeri Hausihol dan Negeri Morela

Dari gambaran peta di atas, dan penjabaran tentang Negeri Hausihol di atas, dapat dsimpulkan bahwa  Negeri Hausihol sangat berbeda dengan Negeri Morela dalam pengertian hak wilayahnya dengan Negeri Morela sekarang.

Latar Belakang Negeri Mamala

Valentijn menyebutkan Negeri Mamala (Negeri Latu) merupakan pusat Uli Sailesi yang beranggotakan Negeri Mamala (Negeri Latu), Negeri Polut, Negeri Loien Negeri Hausihol dan Negeri Liang. Kesemuanya masih di gunung-gunung, kecuali Negeri Hausihol yang terletak di dekat kaki bukit Kapahaha. Setelah kekalahan perang Hitu II tahun 1646.  Kecuali Negeri Liang, Keempat negeri yang lainnya melebur dalam satu Negeri Mamala sekarang ini. (Lihat::Latar Belakang Sejarah Negeri Mamala dan Negeri Morela) Dan karena pertumbuhan jumlah populasi masyarakat yang besar akhirnya pada tahun 1812, Raja Mamala saat itu Latu Manut memberikan mandat kepada Sabar Thenu untuk membentuk satu negeri yakni Negeri Morela saat ini yang sebagian besar warganya berasal dari Negeri Hausihol dan sebagian dari Negeri Loing.

 Latar Belakang Negeri Morela

Jauh sebelum jatuhnya perang Kapahaha, tahun 1646, Hausihol, Latu, Loing dan Polut sudah berada dalam pimpinan Raja Mamala.

Lukisan keberadaan negeri Mamala dan Kapaha periode tahun 1631-1635 (Sumber: Atlas of Mutual Heritage) 
 Hal ini diperkuat oleh keterangan dari Rhumphiius dalam bukunya "De Ambonsche Historie" yang menerangkan bahwa pada tahun 1635 Raja Mamala membawahi Latu, Polut, Loing dan Hausihol. Keempat negeri tersebut lokasinya masih seperti dahulu. Khususnya dengan lokasi Hausihol yang berada di sekitar Kapahaha yang meliputi tiga kampung (Tomasiwa, Teleboang dan Hetalesi)
Jauh sebelum jatuhnya perang Kapahaha, tahun 1646, Hausihol, Latu, Loing dan Polut sudah berada dalam pimpinan Raja Mamala. Hal ini diperkuat oleh keterangan dari Rhumphiius dalam bukunya "De Ambonsche Historie" yang menerangkan bahwa pada tahun 1635 Raja Mamala membawahi Latu, Polut, Loing dan Hausihol. Keempat negeri tersebut lokasinya masih seperti dahulu.
Sejak jatuhnya benteng Kapahaha, tahun 1646. Gubernur Belanda Demmer memerintahkan seluruh negeri yang ada di pegunungan yakni, negeri Latu (Mamala), negeri Polut dan Negeri Loing, termasuk negeri Hausihol turun ke pantai ke lokasi sekarang. Namun saat itu masih dalam pemerintahan Negeri Mamala (Ketua Negeri Uli Sailesi). Negeri Liang sudah berada di posisinya seperti saat ini yang dulunya berada di pegunungan juga.  Pada saat itu masyarakat dari negeri Hausihol bersama dengan masyarakat Negeri Loing hidup bersama di lokasi yang memang sebenarnya masih wilayah negeri Loing. Namun karena alasan yang telah disebutkan di atas, akhirnya menjadi Negeri Morela. Nama Morela sendiri diambil dari nama leluhur  bernana  Oemarela yang ketika itu menjabat sebagai kepala kampung Tomasiwa, sekaligus juga untuk mengenang jasanya saat perang di Kapahaha.

Dalam buku "Het eerstel van het nedeerlandsch gezag in de Molukken in 1817" yakni pada masa transisi dari pemerintahan Inggris ke pemerintahan Belanda. Belanda sempat membatalkan pengembangan pembentukan negeri Morela, dengan mengembalikan negeri Hausihol ke negeri Mamala.


Pembahasan

Pemahaman latar belakang sejarah kedua negeri ini sangat penting diketahui oleh generasi muda sekarang dalam rangka melestarikan  adat istiadat orang Ambon umumnya, dan yang paling penting adalah menyelesaikan konflik berkepanjangan  antara orang Mamala dan orang Morela. Sekalipun pengembangan Negeri Morela seperti saat ini sangat merugikan orang Loing, yang sebagian wilayahnya diberikan oleh Latu Manut seperti diuraikan di atas. Akibatnya sebagian keluarga yang pada awalnya asalnya dari negeri Mamala menjadi orang Morela.

Melihat gambaran peta di atas sebelumnya dapat dimengerti jika prosesi adat pelantikan Raja Mamala yang harus berjalan dari Wayume ke Waitua, karena masih wilayah dari Negeri Loiing sedangkan ketiga orang Penghulu tersebut dapat dipastikan adalah warga Negeri Loing yang nantinya setelah pembentukan Negeri Morela, ketiganya menjadi warga Negeri Morela.

Simpulan

Sebagai kesimpulan dari penjabaran ini dapat ditegakkan bahwa Negeri Hausihol dan Negeri Morela sangat jauh berbeda, baik dalam kajian sejarahnya dan lokasi kedua negeri tersebut. Sehingga dalam pelantikan Raja Mamala memang harus berjalan dari Wayume (negeri Mamala) ke Waitua (negeri Morela), Tulisan ini hanya untuk mengkaji sejarah, sekaligus upaya penyelesaian konflik orang Mamala-Morela, bukan untuk memperbesar perbedaan. Sesungguhnya Negeri Mamala dan Negeri Morela adalah keluarga besar yang kait mengkait begitu dekat bahkan secara umum berasal dari satu garis keturunan yang terangkum dalam Uli Sailesi. Warga kedua negeri ini adalah satu. Jangan tercerai berai.





Kamis, 10 September 2015

Syair Sufi Rabi’ah Al Adawiyah




Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu
Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpaMu
Tuhanku, bintang-gemintang berkelap-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup
Tuhanku, demikian malampun berlalu
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku Kau Terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau Tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mu
Inilah yang akan selalu ku lakukan
Selama Kau Beri aku kehidupan
Demi kemanusiaan-Mu,
Andai Kau Usir aku dari pintuMu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu


Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuhMu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku


Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku padaNya
Ya Allah, jika aku menyembahMu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembahMu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembahMu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
Yang abadi padaku


Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
Kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa denganMu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakan
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki


Aku mencintaiMu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingatMu
Cinta karena diriMu, adalah keadaanMu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
BagiMu pujian untuk semua itu


Buah hatiku, hanya Engkau yang kukasihi
Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadiratMu
Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku
Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau


Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri
Ketika Kekasih bersamaku
CintaNya padaku tak pernah terbagi
Dan dengan benda yang fana selalu mengujiku
Kapan dapat kurenungi keindahanNya
Dia akan menjadi mihrabku
Dan rahasiaNya menjadi kiblatku
Bila aku mati karena cinta, sebelum terpuaskan
Akan tersiksa dan lukalah aku di dunia ini
O, penawar jiwaku
Hatiku adalah santapan yang tersaji bagi mauMu
Barulah jiwaku pulih jika telah bersatu dengan Mu
O, sukacita dan nyawaku, semoga kekallah
Jiwaku, Kaulah sumber hidupku
Dan dariMu jua birahiku berasal
Dari semua benda fana di dunia ini
Dariku telah tercerah
Hasratku adalah bersatu denganMu
Melabuhkan rindu


Sendiri daku bersama Cintaku
Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang
Lintas dan penglihatan batin
Melimpahkan karunia atas doaku
Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna
Antara takjub atas keindahan dan keagunganNya
Dalam semerbak tiada tara
Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu
Ku saksikan yang datang dan pergi dalam kalbu
Lihat, dalam wajahNya
Tercampur segenap pesona dan karunia
Seluruh keindahan menyatu
Dalam wajahNya yang sempurna
Lihat Dia, yang akan berkata
“Tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Yang maha Mulia.”


Rasa riangku, rinduku, lindunganku,
Teman, penolong dan tujuanku,
Kaulah karibku, dan rindu padaMu
Meneguhkan daku
Apa bukan padaMu aku ini merindu
O, nyawa dan sahabatku
Aku remuk di rongga bumi ini
Telah banyak karunia Kau berikan
Telah banyak..
Namun tak ku butuh pahala
Pemberian ataupun pertolongan
CintaMu semata meliput
Rindu dan bahagiaku
Ia mengalir di mata kalbuku yang dahaga
Adapun di sisiMu aku telah tiada
Kau bikin dada kerontang ini meluas hijau
Kau adalah rasa riangku
Kau tegak dalam diriku
Jika akku telah memenuhiMu
O, rindu hatiku, aku pun bahagia

Tujuh Negeri Ulilima Di Tanah Hitu


Seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, Kepulauan Maluku khususnya Pulau Ambon memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia secara keseluruhan. Daerah kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah ini sudah dikenal di dunia internasional sejak dahulu kala. Pada awal abad ke-7 pelaut-pelaut dari daratan Cina, khususnya pada zaman Dinasti Tang, kerap mengunjungi Maluku untuk mencari rempah-rempah. Namun mereka sengaja merahasiakannya untuk mencegah datangnya bangsa-bangsa lain ke daerah ini. Pada awal abad ke-9 pedagang Arab berhasil menemukan Kepulauan Maluku setelah mengarungi Samudra Hindia. Para pedagang ini kemudian menguasai pasar Eropa melalui kota-kota pelabuhan seperti Konstatinopel.

Pada Abad ke-14 merupakan masa ke-emasan perdagangan rempah-rempah Timur Tengah yang membawa agama Islam masuk ke Kepulauan Maluku melalui pelabuhan-pelabuhan Aceh, Malaka, dan Gresik, antara 1300 sampai 1400. Pada abad ke-12 wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya meliputi Kepulauan Maluku. Pada awal abad ke-14 Kerajaan Majapahit menguasai seluruh wilayah laut Asia Tenggara. Pada waktu itu para pedagang dari Jawa memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Di masa Dinasti Ming (1368 – 1643) rempah-rempah dari Maluku diperkenalkan dalam berbagai karya seni dan sejarah. Dalam sebuah lukisan karya W.P. Groeneveldt yang berjudul Gunung Dupa, Maluku digambarkan sebagai wilayah bergunung-gunung yang hijau dan dipenuhi pohon-pohon cengkeh sebuah oase di tengah laut sebelah tenggara.

Marco Polo juga menggambarkan perdagangan cengkeh di Maluku dalam kunjungannya di Sumatra. Maluku memiliki sejarah penindasan dan penjajahan yang panjang mengingat daerah ini telah dikuasai bangsa asing selama kurang lebih 2300 tahun lamanya dengan didominasi secara berturut-turut oleh bangsa Arab, Portugis, Spanyol, dan Belanda. Melalui perdagangan dengan para pedagang Muslim, bangsa Venesia kemudian datang untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dari Eropa antara 1200 dan 1500, melalui dominasi atas Mediterania ke kota pelabuhan seperti Iskandariyah (Mesir), setelah jalur perdagangan tradisional mulai terganggu oleh Mongol dan Turki. Dalam menunjang monopoli ini kemudian mereka ikut serta dalam Abad Eksplorasi Eropa.

Portugal mengambil langkah awal penjelajahan dengan berlayar ke sekitar tanjung selatan benua Afrika, mengamankan rute-rute penting perdagangan, bahkan tanpa sengaja menemukan pantai Brazil dalam pencarian ke arah selatan. Portugal akhirnya sukses dan pembentukan daerah monompolinya sendiri dan memancing keukasaan maritim lain seperti Spanyol-Eropa, Perancis, Inggris dan Belanda untuk mengganggu posisinya. Karena tingginya nilai rempah-rempah di Eropa dan besarnya pendapatan yang dihasilkan, Belanda dan Inggris segera terlibat dalam konflik untuk mendapatkan monopoli atas wilayah ini. (http://malukuinstitute.org/mempertegas-ambon-sebagai-kota-niaga-berbasis-keberagaman/)
Bangsa Eropa pertama yang menemukan Maluku adalah Portugis, pada tahun 1512. Pada waktu itu 2 armada Portugis, masing-masing dibawah pimpinan Anthony d'Abreu dan Fransisco Serau, mendarat di Kepulauan Banda dan Kepulauan Penyu. Setelah mereka menjalin persahabatan dengan penduduk dan raja-raja setempat - seperti dengan Kerajaan Ternate di pulau Ternate, Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng di Pikaoli, begitupula Negeri Hitu, dan Mamala di Pulau Ambon. Namun hubungan dagang rempah-rempah ini tidak berlangsung lama, karena Portugis menerapkan sistem monopoli sekaligus melakukan penyebaran agama Kristen. Salah seorang misionaris terkenal adalah Francis Xavier.
Tiba di Ambon 14 Pebruari 1546, kemudian melanjutkan perjalanan ke Ternate, tiba pada tahun 1547, dan tanpa kenal lelah melakukan kunjungan ke pulau-pulau di Kepulauan Maluku untuk melakukan penyebaran agama. Persahabatan Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Peperangan dengan Sultan Babullah selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus angkat kaki dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.  (http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/portugis.html)

Keuning (1973: 14) menegaskan bahwa berdasarkan berita-berita orang Portugis ketika tiba di Ambon, telah terjadi pertentangan tradisional di antara kedua kelompok uli ini yang diakibatkan oleh pembagian dua (tweedeling) dalam struktur masyarakat. Kaum uli lima tinggal di bagian terbesar dari semenanjung Hitu (Leihitu), sedangkan Leitimor adalah daerah kaum uli siwa. Orang Portugis sendiri dalam pertentangan ini menurut Keuning, memainkan peranan sebagai pihak yang mempercepat pertentangan ini. Keuning juga menjelaskan bahwa uli lima di Hitu, sejak permulaan abad ke 16 sebagian besar sudah memeluk agama Islam. Walaupun demikian, masih banyak kepercayaan dan kebiasaan yang sudah berurat akar tetap bertahan di bawah selimut agama Islam yang baru itu. Sedangkan di Leitimor sebagai wilayah uli siwa pada zaman itu masih setia kepada keyakinannya yang lama. Penghormatan terhadap arwah nenek moyang adalah unsur penting dari agama Ambon yang lama

Peta Tujuh Negeri Uli Lima di Tanah Hitu

Keuning dalam bukunya Sejarah Ambon sampai pada akhir abad ke-17 (1973: 11-12), menjelaskan bahwa uli siwa (persekutuan sembilan) dan uli lima (persekutuan lima) dahulu dikenal di seluruh Maluku, dan masih terdapat di sebagian kepulauan ini pada masa kini. Keuning mengutip rekonstruksi Holleman, yang menjelaskan bahwa uli dapat disebut sebagai suku bangsa, yaitu suatu kelompok agak besar yang terdiri dari orang-orang yang merasa bahwa mereka adalah kesatuan tersendiri dan mengira berasal dari satu keturunan. Uli terdiri atas beberapa aman atau hena, suatu nama yang masih dikenal di negeri-negeri Islam. Aman atau hena merupakan suatu kelompok klen yang terdiri dari beberapa keturunan berdasarkan garis ayah/laki-laki (patrilinial) atau yang disebut rumah tau yang terdiri dari sejumlah keluarga yang hubungan keluarganya masih erat sekali.

Tiga Puluh Negeri Yang Tergabung dalam Tujuh Negeri Ulilima di Tanah Hitu
Belanda, ketika menyerang dan merebut benteng Portugis tersebut, dibantu oleh negeri-negeri dari uli lima dari jazirah Hitu yang beragama Islam, sedangkan dari Leitimor (uli siwa) hanya penduduk Nusaniwe dan Urimeseng yang memberi bantuan. Setelah Diego Barbudo datang membawa 22 kepala kampung (raja, orang kaya) dari negeri-negeri dari Leitimor, ia kemudian membawa sejumlah pemimpin lainnya dari pulau-pulau di sekitar Ambon, yakni Saparua, Haruku dan Nusalaut, untuk menyatakan kesetiaan mereka kepada Belanda. Sikap yang sama diajukan oleh para pemimpin dari Hitu, dengan pimpinan kapitan Hitu, dan uli lima lainnya (Leirissa, 2005: 24, 25). Berkumpulnya para pemimpin negeri-negeri dari uli siwa dan uli lima di pulau Ambon, dan dari pulau-pulau di sekitar Ambon, menjadi momentum bagi van der Haghen untuk mempersatukan para pemimpin tersebut, menciptakan perdamaian, sekaligus membawa keuntungan politik dan ekonomi baginya. Van der Haghen, dengan demikian berhasil menaklukan dan menguasai monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.