Minggu, 06 Maret 2016

Hubungan Cerita Sejarah Tanah Hitu Di Ambon Dan Ternate (Bagian 1)




Pendahuluan

Keingintahuan tentang cerita sejarah perjalanan para leluhur di Maluku umumnya dan di Tanah Hitu khususnya sangat besar. Sebelum era digitalisasi informasi seperti saat ini,  informasi tentang hal tersebut sangat sulit diperoleh.  Kondisi saat ini memberikan berbagai kemudahan untuk menuntaskan rasa keingintahuan tersebut. Untuk memahami cerita sejarah Tanah Hitu, tidaklah lengkap jika hanya memfokuskan kepada pembahasan cerita sejarah Tanah Hitu. Penggalian cerita sejarah Tanah Hitu melibatkan banyaknya simbol-simbol sejarah kesultanan Ternate, Seram dan kaum penjajah seperti Portugis dan Belanda.  Dengan memahami simbol-simbol sejarah tersebut akan memperkuat pemahaman tentang posisi Tanah Hitu dalam cerita sejarah di Maluku selama penjajahan.

Situasi Pemerintahan Ternate

Silsilah Para Kimelaha di Ambon, Seram dan Sekitarnya

Karena Maluku merupakan jazirah kerajaan, tidak mengherankan bila gaya pemerintahannya adalah monarki yang dielaborasi dengan unsur-unsur adat dan tradisi. Takhta adalah lambang supremasi pemerintahan yang diduduki seorang raja sebagai pengambil keputusan akhir atas semua urusan kerajaan dan pemerintahan. Raja dibantu suatu birokrasi yang disebut Bobato (semacam Menteri), yang dikepalai seorang Jogugu (perdana menteri), yang selalu dijabat tokoh-tokoh kepercayaan raja. Pimpinan militer dipegang seorang Kapita Laut (Panglima Laut) yang selalu dijabat putera mahkota atau salah seorang putera raja lainnya. Wilayah Kerajaan terbagi dalam beberapa Jiko (semacam distrik) yang dipimpin seorang Sangaji (dari bahasa Jawa: Sang Aji) yang disebut Jiko Ma Kolano (Kepala Pemerintahan Wilayah) yang membawahkan sejumlah Soa (komunitas setingkat desa) yangdikepalai seorang Kimalaha.

Di samping seorang Sangaji yang menjalankan tugas pemerintahan, raja juga mengangkat seorang Utusan sebagai wakil pribadi raja untuk mengurus kepentingan kerajaan, seperti mengumpulkan upeti dan tugas-tugas khusus lainnya. Pada daerah-daerah taklukan yang bukan kerajaan, raja mengangkat seorang Salahakan (Gubernur), sementara daerah-daerah taklukan yang sudah ada rajanya maka raja tetap memegang kekuasaan dan daerahnya menjadi vasal.

Situasi Ekonomi

Kekayaan Maluku terutama diperoleh dari rempah-rempah cengkih. Tanaman rempah-rempah ini mula-mula tumbuh secara liar di pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Kasiruta. Cengkih baru dibudidayakan mulai tahun 1450. Kekayaan akan rempah-rempah tersebut telah menyebabkan para pedagang Cina, Melayu, Jawa, Arab, Persia, dan Gujarat datang di daerah-daerah ini dengan membawa tekstil, beras, perhiasan dan kebutuhan hidup lainnya untuk ditukar dengan rempah-rempah.

Para pedagang asing tersebut meraup keuntungan berlipat ganda dari pada rakyat kerajaan-kerajaan Ternate, Tidore, dan Bacan penghasil rempah-rempah. Tetapi para sultan, terutama Ternate dan Tidore yang menguasai sentra-sentra perdagangan rempah-rempah, juga menjadi kaya raya dan sangat makmur. Bahan makanan utama rakyat Maluku adalah sagu, beras, dan ikan. Tetapi sagu dan beras tidak dihasilkan oleh Ternate dan Tidore. Kedua jenis bahan pangan ini didatangkan dari Moro, Bacan, Sahu, dan wilayah Halmahera lainnya.

Situasi Keagamaan

Sebelum masuknya Islam, kepercayaan yang dianut raja dan rakyat adalah Animisme. Walaupun dalam sejarah Indonesia dikatakan bahwa sebelum masuknya Islam, Kerajaan Majapahit yang Hindu itu telah menguasai seluruh Nusantara, namun di Maluku tidak terdapat bukti kesejarahan bahwa rakyat dan para rajanya pernah menjadi penganut agama Hindu. Di kawasan ini tidak pernah ditemukan candi atau prasasti yang mengidentifikasikan hal itu. Bertolak dari bukti-bukti kesejarahan tersebut, sangat disangsikan apakah kekuasaan Majapahit yang besar itu pernah sempat menanamkan pengaruhnya di Maluku.

Ekspansi Ternate

Di kawasan Indonesia timur, Ternate merupakan kerajaan terbesar dan terluas daerah kekuasaannya. Peletak dasar politik ekspansionis Kerajaan Ternate ini adalah Kolano Ngara Malamo. Pada masa pemerintahannya, beberapa desa di Jailolo mulai dianeksasinya. Pada masa awal perkembangan ekspansi Ternate, patut disebutkan bahwa keluarga Fala Raha – yang terdiri dari klan Tomaito, Tomagola, Limatahu, dan Marsaoli – adalah pelaksana-pelaksana ekspansi Ternate.

Pada akhir abad ke-15, klan Tomaito mengirimkan ekspedisi ke kepulauan Sula dan membawa kawasan ini menjadi daerah seberang laut Ternate yang pertama. Untuk jasa-jasanya, Raja Ternate mengangkat klan Tomaito sebagai Salahakan (Gubernur) kepulauan Sula dan Sulabesi.

Demikian pula, pada akhir abad ke-16, keluarga Tomagola memperluas wilayah seberang laut Ternate ke Buru. Klan Tomagola, di bawah pimpinan Kibuba, mulai menduduki Seram dan sekitarnya, kemudian melangkah ke kepulauan Ambon, sebelum akhir tahun 1600. Kibuba sendiri ketika itu belum beragama, tetapi akhirnya ia memeluk Islam dan menikah dengan Baifta Broly, puteri seorang Ternate bernama Sehe Jumali yang bermukim di Makian. Dari perkawinan ini lahir 3 orang anak: Dudu, Samarau, dan Molicanga. Dudu melanjutkan kepemimpinan klan Tomagola setelah wafatnya Kibuba.

Setelah Dudu meninggal, keluarga Tomagola berada di bawah dua sub-klan, masing-masing dipimpin Samarau dan Molicanga. Dari kedua pimpinan sub-klan Tomagola itu, Samarau yang paling menonjol. Hal ini menyebabkannya diutus Sultan Khairun sebagai Salahakan di Ambon. Samarau mempunyai dua orang putera: Rubohongi dan Saptiron. Dari kedua putera Samarau itu, Rubohongi merupakan orang kepercayaan dan pembantu utama Babullah. Setelah Babullah dinobatkan sebagai Sultan Ternate, ia mengirim Rubohongi ke Ambon (1570) sebagai Salahakan untuk menggantikan ayahnya, Samarau, yang sudah tua. Di bawah Rubohongi, Ternate berhasil memantapkan posisinya atas Seram, Buru dan sekitarnya. Rubohongi juga berlayar ke Tomimi dan mempersembahkan Teluk Tomimi di Sulawesi Tengah kepada Kesultanan Ternate. (Lihat: Perjuangan Melawan Portugis di Mamala)

Rubohongi mempunyai lima anak: Jumali, Angsara, Kasigu, Dayan, dan Basaib. Jumali, putera pertama Rubohongi, memiliki seorang putera bernama Sabadin, yang menurunkan Majira. Pada masa pemerintahan Sultan Hamzah, Majira menjadi Salahakan, dan melakukan pemberontakan melawan VOC.

Keturunan Rubohongi lainnya yang menjadi Salahakan adalah Luhu dan Leilato, masing-masing adalah putera Dayan dan Basaib. Pada masa kekuasaan merekalah Portugis mulai datang ke Ambon (1515).Tetapi, di bawah para Salahakan klan Tomagola ini pula, Ternate mendominasi kepulauan Amboina, termasuk pulau Buru, Ambalau, Manipa, Kelang, Buano, Seram, Seram Laut, Nusalaut, Honimoa (Saparua), Oma (Haruku) dan Ambon sendiri.

Keluarga Tomagola secara berkesinambungan menjadi Salahakan dan memerintah negeri-negeri di atas hingga akhir abad ke-17. Pada akhir abad ini, Sultan Mandar Syah menyerahkan kepulauan Amboina kepada VOC, berdasarkan perjanjian Ternate-VOC tertanggal 12 Oktober 1676. Sementara keluarga Limatahu dan Marsaoly terus melakukan upaya untuk mengokohkan dominasi Ternate atas daerah seberang lautnya, yang menyebabkan timbulnya pengaruh kuat di pusat kekuasaan.

Aktivitas penaklukan Ternate paling spektakuler terjadi pada masa pemerintahan Sultan Babullah (1570-1583). Pada masa ini, wilayah kesultanan Ternate membentang dari Mindanao di utara sampai Bima di selatan, dan dari Makassar di barat sampai Banda di timur. Babullah adalah Sultan Ternate terbesar dan dikenal sebagai “penguasa 72 pulau” yang seluruhnya berpenghuni. Di masa pemerintahan Babullah, Ternate tampil sebagai kerajaan paling kuat dan berpengaruh dalam politik maupun militer di kawasan timur Indonesia. Bahkan pada masa ini, ketiga kerajaan Maluku lainnya “tidak berkutik”.

Babullah, demikian rakyat menyapanya, menurut sebuah sumber, mampu mengerahkan 90.700 tentara bila diperlukan. Kontributor terbesar pasukan Babullah – di atas 10.000 pasukan –adalah Veranulla dan Ambon (15.000 tentara), Teluk Tomimi (12000), Batu Cina dan sekitar Halmahera Utara (10.000), Gorontalo dan Limbotto (11.000), serta Yafera (10.000). Penyumbang pasukan terkecil adalah Moti dan Hiri, masing-masing 300 tentara.

Keberhasilan Babullah tidak lepas dari keberanian dan kecakapan sejumlah panglima dan komandan tentaranya, seperti Kapita Laut Kapalaya dan Salahakan Rubohongi. Kapalaya dalah penakluk pantai timur Sulawesi, khususnya Buton, dan Rubohongi adalah penakluk Maluku Tengah dan kawasan Teluk Tomimi.

Enam tahun setelah bertakhta, Babullah sudah menguasai pulau-pulau di Ambon, Hoamoal di Seram, Buru, Manipa, Ambalau, Kelang, dan Buano. Empat tahun kemudian, Babullah menguasai negeri-negeri di sepanjang pantai timur Sulawesi, seperti Banggai, Tobungku, Buton, Tiboro, dan Pangasani. Setelah itu, giliran Makassar dan Selayar serta berbagai daerah lainnya di Sulawesi Tengah dan Utara – mulai Gorontalo dan Limbatto, Bolaang Mangondow, Bual, Tolitoli, hingga Tomini dan Parigi – masuk ke dalam kekuasaan Babullah.

(Lanjut : Hubungan Cerita Sejarah Tanah Hitu di Ambon dan Ternate (Bagian 2))


Minggu, 14 Februari 2016

Ahmad Malawat Mantan Walikota Ambon Muslim Pertama (Motivasi, Dedikasi dan Prestasinya)




Pendahuluan

Drs.Ahmad Malawat (Mantan Walikota Ambon ke-8, 1966-1969)

Jasa para tokoh Mamala-Amalatu tentu tak bisa dilupakan. Selain jasanya terhadap negeri Mamala sendiri, juga terhadap masyarakat Maluku umumnya. Sejarah para tokoh ini pun memberikan segudang pengajaran dalam menaklukkan suatu perjuangan. Ahmad Malawat merupakan salah satu tokoh Mamala Amalatu yang perjalanan hidupnya patut diteladani dan dicontoh oleh para generasi muda Mamala khususnya dan masyararakat Maluku umumnya. Sebagai seorang yang lahir pada masa penjajahan Belanda dan menjalani masa kecil saat menjelang kemerdekaan, serta terlahir sebagai turunan bangsawan di Ambon, dengan kultur Islam yang sangat kental. Memberikan suatu proses yang tidak mudah untuk dilalui hingga beliau menggapai segudang prestasi. Sekalipun sulit untuk mendapatkan informasi  lengkap tentang perjalanan hidupnya, namun dalam tulisan ini akan menguraikan  secara sekilas perjuangan hidup beliau dengan berbagai latar kehidupan yang disebutkan diatas serta membandingkan antara latar belakang masa kecil dengan prestasi beliau, khususnya dalam menggambarkan motivasi, dedikasi dan prestasinya untuk dilanjutkan oleh para generasi muda di Mamala khususnya dan Maluku umumnya.

Masa Pemerintahan Belanda

Dalam politik pendidikannya, Belanda tidak memperlihatkan demokratisasi di dalam pendidikan, karena tidak semua orang diberi kesempatan mendapatkan pendidikan yang sama. Sistemnya disebut: Three tract system, yaitu: a. Pendidikan untuk golongan bawahan atau rakyat jelata  b. Pendidikan untuk golongan atas yang disederajatkan dengan Belanda  c. Pendidikan untuk golongan bangsa Belanda, bangsa Eropa dan bangsa Timur lainnya.

Jadi Belanda tidak mendapatkan suatu sistem L‟ecole unique (suatu sistem kesatuan / keseragaman sekolah) dalam pendidikannya di Indonesia. Dengan demikian nampaklah perbedaan yang tajam antara pekerja tangan (biasanya rakyat jelata) sebagai pekerja rendahan dengan pekerja intelek, dalam pekerja intelek (pegawai kantor) dianggap lebih tinggi dan dihargai serta dianggap lebih mulia.

Selayang Pandang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

PMII sejak didirikan pada tanggal 17 April 1960 sebagai Independen dari Organisaiasi NU, yang berpungsi sebagai sayap Mahasiswa NU seperti : GP. ANSHOR disayap Pemuda, MUSLIMAT disayap Ibu-Ibu, PATAYAP di sayap Pemuda, IPNU di sayap Pelajar, serta IPPNU di sayap Putra-putri Nahdiyin maka, komitmen PMII kepada Jami’ah NU adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Keterlibatan PMII dalam dunia politik praktis yang merupakan sayap NU yang pada saat itu menjadi salah satu Partai Politik di Indonesai, yang pada akhirnya sangat merugikan PMII itu sendiri terlalu jauh Organisasi Mahasiswa. Akibatnya PMII banyak mengalami kemunduran dalam segala aspek Pergerakan yang berakibat fatal pada beberapa Cabang PMII di beberapa Daerah di Indonesai kondisi ini menyadarkan PB. PMII untuk mengkaji ulang selama ini dilakukan khususnya dalam Dunia Politik-Praktis.

Setalah melalui beberapa pertimbangan yang mendalam maka pada Musyawarah Besar pada tanggal 14-16 Juli 1972, disana PMII mencetuskan deklarasi Independent PMII darei NU di Munarjati Lawang Jawa Timur, karena Independen PMII, diatas didasari karena :
1. Merupakan Kesadaran PMII yang meyakini sepenuhnya terhadap tuntutan kebutuhan sikap, kebebasan berfikir, dan pengembangan kreativitas yang dijiwai oleh niali-nilai Islam.
2. Merupakan Manipestasi dari kesadaran organisasi dari tuntutan kemandirian kepeloparan, kebebasan berfikir, dan berkreasi serta tanggung jawab sebagai kaders umat dan Negara. Sedangkan secara politis sikap independensi itu konon ada bergening antara tokoh PMII pada saat itu dengan Pemerintah terbukti dengan adanya sejumlah tokoh PMII seperti Zamroni, Adul Padare, Hatta Mastufga, dan Said Budairy tercatat sebagai orang yang melahirkan “Deklarasi Pemuda Indonesia” yang kemudian menjadi KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia).

Klimaks dari resistensi terhadap Pemerintah Orde Baru adalah Gerakan Mahasiswa Dekade 1990 an dimana PMII berdiri di barisan paling depan dalam menghancurkan Rezir Orde Baru, sebagaimana NU juga pada paruh kedua tahun 1960-an.

Refleksi Sejarah PMII Komisariat UNPATTI

PMII Komisariat UNPATTI yang didirikan pada tahun 1964 oleh Almarhum Sahabat Drs.Ahmad Malawat merupakan tokoh pergerakan yang telah menunjukan eksistensi ke-PMIIan-nya terbukti dalam catatan sejarah beliau merupakan mantan Walikota Ambon Islam pertama dan salah satu pendiri PMII Cabang Ambon, dan di Maluku secara kolektif. Perjuangan beliau tidak akan pernah surut sampai kapanpun dan beliau akan di kenang oleh setiap warga Pergerakan sampai akhir hayatnya.

Deskripsi

Hidup di masa penjajahan adalah menjalani keterpaksaan dan himpitan kesulitan. Sekalipun sebagian masyarakat tertentu mengalami kehidupan yang manis karena fasilitas dari penjajah, tetapi mayoritas penduduk pribumi mengalami penderitaan yang sangat. Sebagian dari mereka yang memperoleh sedikit keberuntungan hidup itu, yakni Drs. Ahmad Malawat yang sadar akan kebebasan hidup yang diperlukan banyak masyarakat. Kesempatan yang diperolehnya dimanfaatkan sepenuhnya untuk menggapai cita-citanya, hingga akhirnya mendapat kesempatan kuliah di Fakultas Sospol Universitas Gajah Mada, beliau kemudian menjadi salah satu dosen di Unpatti. maklum ketika itu tidak semua orang bisa sekolah, kecuali golongan tertentu saja.

Sekalipun kesempatan yang diperoleh ini juga diperoleh oleh orang lain dari kalangan bangsawan di Tanah Hitu, namun hanya Drs. Ahmad Malawat yang dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.  Beliau menyadari benar pesan ayahandanya yang merupakan Raja Mamala, yang selalu mengatakan “Baba sekarang hanya hidup dari  hutan, maka engkau jangan lagi hidup dengan menggantungkan diri dari hutan, manfaatkan kesempatan belajar ini, dengan sebaik-baiknya. Sehingga engkau dapat memberikan contoh untuk adik-adikmu dan keluarga besar di kampung”. Kesadaran dirinya tentang kesempatan yang diperoleh untuk mengangkat status sosial dan ekonomi serta martabat keluarganya begitu tertanam pada dirinya. Sehingga beliau sangat senang bila ada di antara keluarganya mengikutinya menuntut ilmu di Jogjakarta. Hal ini diperlihatkan oleh beliau saat salah seorang adik sepupunya mengikuti pendidikan Residen (setingkat Bupati saat itu), beliau memperlihat rasa antusiasme dan rasa sayang yang sangat dalam.

"Beliau menyadari benar pesan ayahandanya yang merupakan Raja Mamala, yang selalu mengatakan “Baba sekarang hanya hidup dari  hutan, maka engkau jangan lagi hidup dengan menggantungkan diri dari hutan, manfaatkan kesempatan belajar ini, dengan sebaik-baiknya. Sehingga engkau dapat memberikan contoh untuk adik-adikmu dan keluarga besar di kampung”.

Selama masa pendidikannya di kota pelajar ini, dimanfaatkannya untuk mengembangkan diri nya dengan mengikuti berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan dan keagamaan. Sekembalinya dari Jogjakarta beliau berhasil menjadi Pegawai Negeri Sipil dan juga sebagai staf dosen Fisipol Unpatti. Hal ini dikarenakan beliau paham bahwa sebagai putera bangsa yang sadar akan pentingnya memajukan para pribumi itu bertekat untuk menggalang pendidikan bagi masyarakat luas. Hal yang dilakukan oleh Drs.Ahmad Malawat pendiri PMII Komisariat Unpatti dan tokoh-tokoh lain di nusantara. Hanya rasa keprihatinan yang mendalam yang menyentuh jiwa mereka yang menjadi motivasi gerakan pendidikan nasional di masa  itu..

Para tokoh pendidikan kala itu tidak hanya berkorban tenaga dan pikiran saja, mereka pun berkorban harta dan segala yang mereka miliki demi kemajuan pendidikan bangsa. Sebuah pengorbanan yang tidak ringan dan perlu dikaji dengan baik untuk cerminan kita generasi penerusnya. Mengajar bangsa dengan hati, berkorban sepenuh hati, ketulusan yang menyentuh dan tidak pernah luluh. Baru-baru ini saja ramai orang membincangkan tentang perlunya mendidik dengan hati, padahal sudah sejak semula dalam sejarah pendidikan kita, beliau mengajar dengan dengan hati. Berbuat tanpa pamrih adalah ciri perjuangan beliau. Dan rasa kebangsaan yang tiggi menjadi pendorong utamanya. Hal-hal demikian inilah yang telah lama luntur dari wajah pendidikan kita.

Prestasi

Beliau merupakan mantan Walikota Ambon ke-8 (1966-1969). PMII Komisariat UNPATTI yang didirikan pada tahun 1964 oleh Almarhum. Sahabat Drs.Ahmad Malawat merupakan tokoh pergerakan yang telah menunjukan eksistensi ke-PMIIan-nya terbukti dalam catatan sejarah beliau merupakan mantan Walikota Ambon Islam pertama dan salah satu pendiri PMII Cabang Ambon, dan di Maluku secara kolektif. Beliau merupakan Raja Mamala ke-15. Beliau Juga pernah menjadi Dekan Fisipol Unpatti dan menjadi Bupati Halmahera Tengah. Karena begitu besar dedikasi dan pengorbanannya dalam membangun Kabupaten Halmahera Tengah, nama beliau diabadikan sebagai nama jalan di kota itu, tepatnya di Kota Tidore Kepulauan, di Kelurahan Gura Bunga. Sepeninggalnya beliau dari jabatan ini, beliau menjadi Karo Pembangunan Maluku (Bappeda sekarang), dan tempatnya digantikan oleh Idris Tukan (Ketua MUI Maluku).   Jabatan terakhirnya adalah Kepala Biro Pembangunan Maluku hingga akhir hayatnya (Posisinya kemudian ditempati oleh M.Akib Latuconsina yang kemudian menjadi Gubernur Maluku). Perjuangan beliau tidak akan pernah surut sampai kapanpun dan beliau akan di kenang oleh setiap warga pergerakan sampai akhir hayatnya.

Minggu, 31 Januari 2016

Cerita Sejarah Hubungan Gandong Antara Negeri Mamala dan Negeri Kaibobo

Mamala Amalatu Gandong Dengan Kaibobo Henapoput Tahisane Samale



Pendahuluan

Masyarakat Maluku adalah masyarakat yang memiliki khazanah budaya. Khazanah budaya itu terkonfigurasi sejak lama dan sering dimaknai sebagai suatu keberlanjutan (continuity) tapi sekaligus suatu keterputusan (discontinuity). Dalam khazanah budaya itu, persaudaraan merupakan sebuah nilai berharga yang dijunjung tinggi di samping nilai-nilai budaya lain seperti nilai kerja sama, tolong menolong, keberanian, kebersamaan dll.

Saniri Ke-empat Negeri Bersaudara Mamala, Kaibobu, Tiouw dan Lateri
 
Sebagai sebuah nilai, persaudaraan merupakan bagian dari kebudayaan yang lahir dari kesadaran manusia terkait hubungan atau relasi antarindividu atau antarkomunitas. Nilai persaudaraan tidak dapat diamati secara langsung, juga tidak dapat diraba. Namun, bisa dicermati dan dirasakan melalui berbagai bentuk simbolisasi dan representasi. Dalam realitas kehidupan bersama di Maluku, nilai ini mudah ditemukan dalam medium manifestasinya seperti ikatan fam atau klan, matarumah, soa, negeri atau kampung, agama, tapi juga dalam pranata adatis seperti ikatan pela dan gandong. Nilai persaudaraan menjadi kekuatan besar yang mengikat individu-individu sebagai sebuah masyarakat.

Acara Penyambutan Kedatangan Gandong dari Kaibobu saat Pelantikan Raja Mamala Upu Latu Ramli Malawat (6/06/2015)
 
Nilai persaudaraan yang bagi masyarakat Maluku memiliki daya rekat yang kuat biasanya didasarkan pada ikatan genealogis-biologis, kesamaan identitas agama tapi juga ikatan teritorial komunitas. Dalam dirinya nilai ini bersifat ambigu. Pada satu sisi ia bersifat mengikat atau mempersatukan suatu komunitas tapi pada saat yang bersamaan melakukan pemisahan dari orang atau komunitas dengan identitas berbeda. Dalam kenyataan, nilai persaudaraan ini sering mengalami penyempitan makna. Ia sering dimaknai secara eksklusif, terbatas pada keluarga, etnis, sub-etnis, kelompok sosial dan agama tertentu tergantung pada konteks dan waktu penggunaannya. Akibatnya orang membedakan dan memisahkan diri dengan orang lain yang memiliki identitas berbeda. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai persaudaraan merupakan sesuatu yang lentur, yang berada pada titik labil. Akibat kelenturannya itu maka tidak mudah nilai persaudaraan ini menjadi patron bersama bagi masyarakat Maluku.

Acara Penyambutan Kedatangan Gandong dari Kaibobu dan Tiouw saat Pelantikan Raja Mamala Upu Latu Ramli Malawat (6/06/2015)
 
Sebagai bagian dari kebudayaan manusia, nilai persaudaraan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis. Proses pemaknaannya dalam masyarakat Maluku senantiasa berada dalam proses menjadi. Dengan demikian nilai persaudaraan itu selalu terbuka untuk mendapatkan pemaknaan yang baru yang lebih kontekstual dan fungsional. Pemaknaan persaudaraan yang cenderung eksklusif dibatasi pada ikatan genealogis-biologis atau teritorial tertentu, mulai mengalami pergeseran dan menjadi semakin terbuka karena mendapat pemaknaan baru. Itulah proses transformasi budaya. Transformasi itu terjadi seiring dengan makin berkembangnya dinamika masyarakat Maluku. Dengan kata lain, nilai persaudaraan mengalami transformasi sehingga menjadi lebih terbuka bersamaan dengan tuntutan hidup bersama (living together) secara terbuka dan adil dalam masyarakat.

Suasana Kedatangan Gandong Kaibobu di Gapura Negeri Mamala

Secara sosio-kultural, Ungkapan Katong Samua Basudara mengandung makna yang sangat dalam bagi orang Maluku. Ungkapan ini merupakan ungkapan perasaan dan kesadaran tentang sebuah ikatan persaudaraan atau sebuah ikatan emosional. Layaknya sebuah keluarga yang memiliki perasaan senasib dan sepenanggungan. Dalam konsep ini sesungguhnya terkandung kesadaran dan pengakuan tentang apa yang dipahami sebagai “common feeling”. Pengakuan bahwa Katong Samua Basudara kemudian melahirkan kesadaran dan kesediaan untuk saling berbagi rasa baik suka maupun duka (solidaritas). Istilah-istilah budaya yang mengandung kesadaran dan kesediaan berbagai rasa itu misalnya “ale rasa beta rasa”, “sagu salempeng patah dua, potong di kuku rasa di daging. Dari ungkapan-ungkapan budaya ini terlihat secara jelas ada hubungan dialektika antara nilai persaudaraan dengan nilai solidaritas. Orang bersaudara mestinya memiliki rasa solidaritas dan sebaliknya rasa solidaritas menunjukkan adanya ikatan persaudaraan.


Cerita Sejarah Hubungan Gandong Antara Negeri Mamala dan Negeri Kaibobo

Sekitar abad ke 17, Putra Raja Mamala Latuhamis ingin menikah. Dan orang tua-tua keluarga Raja Mamala mencari perempuan untuk Putra Raja Latuhamis dan mendapatkan seorang Putri di negeri  Kaibobu, nama dari Putri Raja kaibobu tersebut yaitu Nyai Riri. Tapi sebelumnya menjadi masalah karena permintaan mas kaweng dalam bentuk harta adat yang paleng istemewa dari orang tua Putri Raja kaibobu berupa meriam-meriam kecil yang terbuat dari tembaga. Pada waktu itu masyarakat mamala sudah tidak ada lagi yang memiliki harta adat (meriam kecil) ini lagi. Kejadian ini juga terkait dengan satu kampong yang hilang dari negeri Urimesing namanya kampong Amanputa (letaknya dilorong sagu dekat Batu Gajah) karena sering malawan Belanda. Kampong ini melarikan diri dan menetap di Negeri Mamala dengan secara kebetulan kampong Amanputa ini ada mempunyai harta adat berupa meriam kecil tembaga, akhirnya orang tua-tua dari Mamala meminta bantuan dari orang tua-tua Lilisula (Amanputa). Dengan penuh keikhlasan orang tua-tua Lilisula menyerahkan harta adat tersebut setelah menyerahkan dari kedua pihak angkat “Makao” (kao –ipar). Dan orang tua-tua dari mamala membawanya ke putri raja Negeri Kaibobu dan membawa pulang Putri Raja Kaibobu Nyai Riri,

Suasana Penerrimaan Secara Resmi Gandong dari Negeri Tiouw oleh mantan Raja Mamala Upu Latu Ir.H.Abdullah Malawat

Karena pemberian harta adat ini Negeri mamala menambahkan satu soa sehingga mereka tidak akan melupakan asal usul mereka dari mana? Namanya Soa Puta, serta memberikan tanah sekitar 10 hektar.

Suasana Mengharukan antara mantan Raja Mamala dengan Gandongnya dari Negeri Kaibobu



Diceritakan langsung oleh Mantan Raja Mamala bapak Ir.H.Abdulah Malawat pada waktu pelantikan Raja Mamala (6-06-2015), yang disadur oleh Rolly Matahelumual.

Sabtu, 30 Januari 2016

Cerita Sejarah Hubungan Pela antara Negeri Mamala dan Negeri Lateri




Pendahuluan

Budaya adalah bagian dari identitas bangsa. Kehilangan budaya yang dimiliki suatu daerah bukan hanya kehilangan jati diri dari daerah tersebut tetapi juga turut mempengaruhi tatanan masyarakat, menimbulkan  ketidakseimbangan yang mengarah kepada degradasi budaya sehingga mengancam ketidakstabilan dalam kehidupan masyarakat yang berdampak kepada potensi ancaman pada kehidupan generasi muda yang tidak mampu meneruskan konsep yang telah terbangun dalam kesepakatan bersama para leluhur. Sebagaimana penjelasan pasal 32 UUD 1945 bahwa : “ Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya bangsa Indonesia seluruhnya, kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah adat budaya dan persatuan”.

Budaya Siwalima

Maluku sebagai saah satu wilayah Indonesia bagian timur memiliki kultur budaya yang berbeda dengan daerah-daerah wilayah lain yang ada di Indonesia. Budaya Siwalima adalah aset yang telah mengakar dalam kehidupan bersama masyarakat Maluku dimana salah satu nilai-nilai yang terkandung dalam instrumen pelaksanaannya meliputi: Pela-Gandong yakni kehidupan bersama dalam komunitas agama yang berbeda dari dua atau tiga desa yang berbeda dalam suatu hubungan kekerabatan. Makan Patita atau makan bersama dalam masyarakat kelompok masyarakat dalam komunitas yang banyak, menggambarkan hubungan kekerabatan dalam masyarakat Maluku. Pernyataan kekaguman terhadap kehidupan masyarakat Maluku ini juga dinyatakan oleh Presiden Indonesia yang pertama dalam buku Lokolo (1997:5) bahwa: ‘ kalau mau mencari persatuan carilah dan belajarlah pada orang Maluku. Dalam budaya Siwalima masyarakat Maluku mengatur pula sistem pemerintahan negeri adat, di mana setiap daerah-daerah di Maluku memiliki pemerintahan adat yang diatur berdasarkan hukum adat.

Cerita Sejarah Hubungan Pela  antara negeri Mamala dan negeri Lateri


Kesamaan Toreng Mesjid di Mamala dan Toreng Gereja di Lateri
 
Hubungan Pela terjadi pada sekitaran tahun 1957 -1958, pada saat itu negeri Lateri masih menjadi sebuah perkampungan. Sebelum terbentuknya hubungan pela ini, pada tahun 1940-an.....ke-atas, orang tua-tua Mamala kalau mau ke Ambon atau mau pulang ke kampungnya, biasa singgah di Lateri untuk makan bekal di sebuah parigi dekat pohon sagu dipinggir pantai. Di saat yang sama, secara kebetulan juga orang Lateri juga biasa bekerja membuat sero di Negeri mamala. Dan pada tahun 1957 itu kesebelasan bola Mamala dan Lateri terbentuk Mamala yang dipimpin oleh alm bapak Saleh Pulhehe (kepala pemuda pada waktu itu) sedangkan Lateri dipimpin oleh alm bapak Mon Leihitu, dari sinilah cikal bakal terjadi pela antara Mamala dan Lateri.

Pada waktu itu bapak Saleh datang ke Lateri untuk meminta bantuan kepada kesebelasan Lateri untuk kerjasama dan melatih pemain Mamala selama 1 minggu dari latihan bersama-sama ini terjadi hubungan yang sangat erat.....selama melatih pemain bola Mamala berbulan-bulan ada suatu kisah dirumah alm bapak Gawi Malawat. Saat itu dari kesebelan Lateri dan kesebelasan Mamala sedang minum teh bersama-sama, karena kegembiraan dan merasa puas apa yang selama ini dilatih oleh kesebelasan Lateri maka kedua keseblasan ini berjabat tangan berpelukan sambil menangis....disaat itu Bapak Raja Mamala Lewat dan singah dirumah Bapak Gawi Malawat, beliau sangat terharu........Pada waktu Bapa Raja Mamala masuk kedalam rumah dan kesebelasan Lateri pun mengendong Bapak Raja Mamala dan kesebelasan Mamala juga mengendong ketua kesebelasan Lateri. Bapak Raja Mamala pun berpesan kepada ketua kesebelasan dan pemain Lateri ," Basudara-basudara nanti pulang ka Lateri kirim beta punya pung pesan kepada bapak Raja kampong Lateri, untuk datang bersama-sama masyarakat Lateri ke Negeri Mamala "setelah penyampain itu tidak lama kemudian bapak Raja kampong Lateri dengan masyarakat Lateri datang ke Negeri mamala , Bapak Raja Mamala pun mengambil pankuku(dari bambu) dan berkata kepada Bapak Raja kampong Lateri mari katong dua sama-sama pegang pangkuku untuk kuku durian.

Disaksikan oleh masyarakat kedua negeri Mamala dan Lateri, setelah durian jatuh Raja mamala membela menjadi dua bagian dan memberikan sebelah kepada bapak Raja kampong lateri sebelah kepada bapak Raja Mamala dan mengangkat hubungan saudara dengan Lateri, dalam kesempatan itu juga Bapak Raja kampong Lateri menyampaikan kami sangat berterimah kasih kepada Bapak raja Mamala dengan masyarakat Mamala dan suatu waktu nanti kami dari Lateri akan pulang berunding dan mengundang Bapak Raja Mamala bersama-sama masyarakat Negeri mamala untuk datang ke Lateri di rumah kediaman bapak Mon Lehitu(ketua kesebelasan Bola) sebelum ikrar pela diucapkan ketua kesebelasan lateri membawa selempeng sagu deng satu buah ketupat kepada bapak Raja Mamala dan bapak Raja kampong Lateri. Bapa Raja kampong Lateri mengambil sagu salempeng dipatah dan mengatakan " ini sagu mengikatkan kita basudara dari Lateri dan Mamala menjadi hubungan Pela yang tidak boleh dipisahkan sampai anak cucu". dan Bapak raja Mamala mengambil ketupat dan dibelah dan mengatakan "Dihari ini juga kita berjanji untuk sama-sama Lateri membangun Mamala, Mamala membangun Lateri". Pada tahun 1960 kampong Lateri meminta bantuan kepada negeri Mamala untuk membuat sekolah Rakyat bantuan itu berupa atap dan melibatkan masyarakat mamala untuk pekerjaan Sekolah Rakyat di Lateri.

Pada tahun 1962 Mamala meminta tenaga dari Lateri untuk merenovasi Mesjid pada waktu itu, dari Lateri yang menjadi bas bapak Boby Sinanu, sedangkan kepala tukang bapak Pede Adrian, semua pekerjaan sudah selesai tinggal kubah mesjid yang dibuat, bapak Raja Mamala pun meminta kepada Bapak Ongo Rumate (tukang kayu) untuk menyelesaikan bagian atas kubah. Atas pekerjaannya dalam menyelesaikan kubah mesjid, masyarakat Mamala membangun rumah kepada Wellem, anak dari pada bapak Ongo. Pada tahun 1992 dari Lateri bas bapak Yeye Adrians dipangil untuk membantu membuat gapura negeri Mamala dalam mengikuti lomba antar desa dan mendapat juara 1 antar desa pada waktu itu. Sebagai keberhasilan tersebut bapak Raja Mamala saat itu (Ir.H.A. Malawat) mendapat undangan Presiden RI untuk menghadiri HUT Proklamasi di Istana Merdeka Jakarta. Bapak Yeye Adrians inilah juga yang  dipakai untuk membuat toreng Mesjid yang merupakan monumen hubungan Pela Pembangunan antara Mamala dan Lateri. Kedua bangunan tersebut sangat berkesan bagi  kedua masyarakat Negeri Mamala dan Lateri, yaitu Toreng Masjid Mamala Sama Persis Dengan Toreng Gareja Lateri.



Sumber dari tua-tua adat Lateri pada pelantikan Raja Mamala yang disadur oleh Rolly Matahelumual. 

(Lihat Tulisan lainnya: Pengorbanan Halaene sang Raja Mamala untuk Tanah Hitu (Ambon))