Sabtu, 05 September 2020

Bendera Bergambar Harimau Champa atau “Cheetah”/Citah

 Bendera ini berukuran sekitar 100 x 40 cm, warnanya kini sudah pudar hitam keabu-abuan. Di dalam bendera tersebut terdaoat tiga buah gambar. Gambar yang paling bawah dan atas bergambarkan harimau Champa atau “Cheetah”/Citah dengan kepala  pada masing-masing harimau mengarah ke logo atau gambar perisai di bagian tengah dengan tulisan dua kalimat syahadat. Di sekeliling pinggiran perisai berpola segitiga sebanyak delapan buah yang bertuliskan dua kalimat syahadat yang tersebar di delapan segitiga tesebut. Latar dasar dari ketiga gambar pada bendera tersebut warnanya sudah mulai memudar. Kedelapan segitiga tersebut menyerupai pola segiempat yang tumpang tindih yang salah satunya diputar, dalam banyak kasus merupakan tanda otonom {Signs and Simbols Their Design and Meaning}. {24} Pola segitiga sebanyak delapan buah yang mengelilingi bulatan ini mempunyai kesamaan dengan bendera Iraq tahun  1959-1963. {1}

Gambar 1. Bendera Bergambar Harimau Champa


Kedelapan segitiga tersebut, mengelilingi dua  bulatan yang berisi kaligrafi tulisan Dua kalimat Syahadat, demikian pula dengan kedelapan segitiga tersebut memperlihatkan penggalan kata dari dua kalimat Syahadat. Pada lingkaran bagian dalam terdapat formasi tulisan berupa hizib. Pengertian simbol bulatan yang berisi dua kalimat Syahadat tersebut sebagai berikut:  Manusia modern mungkin memiliki sifat yang lebih spontan hubungannya dengan garis lurus dibandingkan dengan kurva. Aktivitas sehari-hari dengan permukaan tanah dan dengan segala jenis konstruksi terutama didasarkan pada dua prinsip horizontal dan vertikal. Sedangkan untuk simbol yang berbentuk bulat lebih berhubungan dengan indera daripada pikiran. Di dalam lingkaran, seseorang akan menemukan garis dengan pengulangan yang kekal, tanpa awal maupun akhir, dan mengelilingi pusat yang tak terlihat tapi sangat tepat. Ini membandingkan dengan ide perjalanan waktu, yang mana datang entah dari mana dan tidak ada habisnya.

Perasaan berada di dalam lingkaran mungkin bisa diartikan sebagai dorongan menuju pusat  atau pencarian kesatuan hidup yang misterius. Sebaliknya dengan akal, kehidupan yang aktif memancar dari yang tak terlihat dari pusat ke luar, ke sekeliling. Berdiri di luar lingkaran, kita diingatkan tentang matahari, pemberi kehidupan yang sangat diperlukan dengan sinar-sinarnya memancar dalam bentuk lingkaran, dan bulan yang menerangi malam melalui refleksi.  {2}

Harimau yang terdapat bendera sesuai dengan ciri khas yang menunjang adanya ukuran kaki belakang yang lebih panjang dari kaki depan. Harimau Champa atau “Cheetah”/Citah digambarkan dengan harimau loreng yang sangat galak. {3,4}

Fakta Harimau

Kamuflase

Para ilmuwan telah mengklasifikasikan kucing menjadi 37 spesies - kucing domestik dan 36 kucing liar. Masing-masing spesies kucing ini, mulai dari singa dan macan tutul, hingga kucing caracal dan pemancing, memiliki warna dan pola bulu yang berbeda.

Banyak kucing menghabiskan banyak waktu dalam bayang-bayang. Saat sinar matahari menyentuh daun pohon, semak dan rerumputan, hal itu menciptakan pola bercak terang dan gelap yang berbeda di mana-mana. Bintik atau garis pada bulu kucing sering kali cocok dengan pola tersebut. Dengan demikian, kucing menyatu dengan latar belakangnya sehingga lebih mudah baginya untuk tetap tidak diperhatikan musuh atau menyelinap di mangsa.

Warna dan pola bulu kucing bervariasi tergantung pada lingkungan tempat mereka tinggal.

Harimau: memiliki garis-garis vertikal di atas tubuhnya yang berwarna kuning-orrange. Garis-garisnya menyatu dengan rerumputan. Penandaan tersebut membantu harimau untuk mengintai mangsanya tanpa disadari. Harimau di wilayah Sumatera memiliki belang paling banyak, dan harimau di wilayah Siberia memiliki belang paling sedikit. Garis-garis harimau seperti sidik jari manusia; tidak ada dua harimau yang memiliki pola garis yang sama.

Leopord: bulunya ditandai dengan mawar hitam kecil yang rapat. Beberapa macan tutul merembes tidak memiliki bintik-bintik - mereka disebut macan kumbang hitam {black panthers}. Tapi kucing ini benar-benar macan tutul biasa dengan bulu gelap. Pola normal bintik-bintik dapat dilihat jika diamati dengan cermat.

Singa: hidup di jalur hutan berduri dengan padang rumput yang diselingi. bulunya berwarna coklat tanpa bercak atau pola di atasnya. Pewarnaan seragam ini membantu singa menyatu dengan latar belakang di padang rumput terbuka.

Snow Leopord: Warna bulunya berkisar dari abu-abu lembut hingga putih bersih di bagian bawah, dengan mawar besar.

“Clouded Leopord”: Warna tubuh bervariasi dari abu-abu hingga coklat tanah, dengan bercak gelap yang dilapisi dengan hitam. ia mendiami hutan hijau yang lebat di mana ia berburu di malam hari.

Kucing Pemancing {Fishing Cat}: Tanda tubuh terdiri dari serangkaian titik memanjang yang diatur dalam baris yang kurang lebih memanjang dari kepala ke ekor

Caracal: Pewarnaannya adalah coklat kemerahan unifom

“Cheetah” / Citah :  memiliki bintik-bintik hitam padat. sekarang sudah punah di India. {6}

Harimau berhasil memburu mangsanya hanya dalam 10 hingga 20 persen percobaan. Tidak seperti “cheetah”/ Citah, harimau tidak bisa berlari mengejarnya dalam jarak jauh. Ia membunuh dengan mengintai mangsanya dari belakang, merayap di atasnya, dan kemudian melompat ke atasnya. Seekor harimau biasanya mengeluarkan 2-3  air mata dan menyerah jika tidak berhasil menjatuhkan mangsanya.{5}

Sekilas Tentang “Cheetah” atau Citah

Citah (bahasa Sanskerta: chitraka, berarti "berbintik", bahasa Inggris: cheetah, bahasa Latin: Acinonyx jubatus) adalah anggota keluarga kucing (Felidae) yang berburu mangsa dengan menggunakan kecepatan dan bukan taktik mengendap-endap atau bergerombol. Hewan ini adalah hewan yang tercepat di antara hewan darat dan dapat mencapai kecepatan 110 km/jam dalam waktu singkat sampai 460 m, dengan akselerasi 0 – 100 km/jam dalam waktu 3,5 detik, lebih cepat dari beberapa mobil balap. Konon, selama bertahun-tahun citah hanya dikenal sebagai cerita hantu. Menurut cerita, binatang pemangsa besar dengan garis-garis mirip harimau pada tubuhnya ini sering membawa kabur orang-orang yang berada di perbatasan Mozambik. Penduduk di sana sering memberi julukan citah dengan "magwa". {6}

Gambar 2. "Cheetah" / Citah


Citah juga dikenal sebagai pemangsa paling efisien di  bumi. Mengejar dan menerkam mangsa hanya ketika mangsa itu ada dalam jangkauannya. Hewan ini tergolong pintar dengan kemampuannya mendeteksi hewan yang paling lemah. Ia menjatuhkan korban bukan dengan menerkam seperti singa atau harimau. Tapi pada sentuhan kecil di kaki belakang korban yang sedang berlari kencang. Saat korban jatuh, citah kemudian menerkam tengkuk korban untuk kemudian selanjutnya dicengkram hingga kehabisan darah. {5}

Mengingat penggunaan istilah harimau Champa atau “Cheetah”/Citah yang sesuai dengan KBBI tentang definisi ganbar citah atau harimau pada bendera masjid, maka istilah harimau Champa atau “Cheetah”/Citah tetap digunakan pada tulisan ini, apalagi banyak referensi terkait dengan Champa menyebut harimau yang gambaran sebetulnya adalah citah {Cheetah}

Harimau Champa atau “Cheetah”/Citah dalam penyebutan sering disebut harimau campa. Urang Campa adalah sebutan bagi komunitas Campa dalam bahasa mereka sendiri. Sedangkan di Malaysia mereka disebut sebagai Melayu Champa.{7}

Kepala dari kedua harimau tersebut mengarah kepada gambar perisai yang terdiri dari kaligrafi Dua Kalimat syahadat disertai delapan segitiga yang bertuliskan lapadz kata dari kalimat  Syahadat.

Rub el Hizb (bahasa Arab: ربع الحزب rubʿ al-ḥizb) adalah simbol Islam berbentuk oktagram, dipresentasikan sebagai dua kotak {segi empat} yang saling tumpang tindih, yang terdapat pada sejumlah lambang dan bendera. Dalam bahasa Arab, Rubʻ berarti "seperempat", sedangkan Hizb berarti kelompok atau partai. Awalnya, ini digunakan dalam Alquran, yang dibagi menjadi 60 Hizb (60 kelompok dengan panjang yang kira-kira sama); simbol menentukan setiap seperempat Hizb, sedangkan Hizb adalah setengah dari satu juz '. Tujuan utama dari sistem pemisah ini adalah untuk memudahkan pengajian Alquran.  {8}

Gambar 3. Pola Segi Delapan dengan Lafaz Syahadat


Gambaran perisai dari bendera harimau Champa atau “Cheetah”/Citah ini juga mempunyai kemiripan dengan “Surya Majapahit”. Surya Majapahit (Matahari Majapahit) adalah lambang yang biasa ditemukan di reruntuhan yang berasal dari zaman Majapahit. Lambang tersebut biasanya berbentuk sinar matahari berujung delapan dengan bagian yang membulat di tengahnya yang menggambarkan dewa-dewa Hindu. Lambang tersebut  berbentuk diagram kosmologis yang dihalangi oleh sinar matahari "Surya Majapahit" yang khas,  atau lingkaran sederhana dengan sinar matahari yang khas. Karena popularitas lambang matahari ini pada zaman Majapahit, maka diperkirakan lambang matahari ini dijadikan sebagai lambang kerajaan kerajaan Majapahit.{9}

Gambar 4. Perbandingan dengan Surya Majapahit


Pembahasan

Dari lambang-lambang yang ada pada bendera, memperlihatkan jati diri masyarakat Mamala yang ramah, dan menjunjung  nilai-nilai agama Islam dengan berdasarkan pada kalimat Syahadat, “Tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah”. Bendera memperlihatkan prinsip dalam berumallah, membangun persaudaraan sesama, dengan prinsip-prinsip Islam, ramah terhadap segala golongan dan agama, namun jika akidah agamanya diganggu, maka mereka akan cepat sekali menanggapinya. Ramah namun bersahaya diperlihatkan oleh gambaran harimau yang memalingkan mukanya.

Bendera menjadikan Tauhid, sebagai  sentral dari sikap dalam hidup, merupakan akar utama yang harus memberikan energi kepada pokok, dahan, dan daun kehidupan, yang menentukan gerak dan gerak dan kualitas air kehidupan.  Semua aktivitas  kehidupan mestilah berangkat dari Tauhid tersebut.

Gambaran pola segi delapan pada perisai bendera, tidak seperti gambaran pada bendera Iraq tahun 1959-1963, yang polanya berasal dua persegi empat yang susunannya bersilang. Sekalipun tidak mempunyai pola yang sama persis, namun pola segi delapan tetap menjadi benang merah hubungan antara keberadaan bendera yang berkaitan dengan Iraq dalam hal ini adalah dinasti Abbasyiah. Pola segidelapan dari perisai bendera lebih menyerupai bendera surya Majapahit, yang memberikan saksi hubungan antara kerajaan Champa dan kerajaan Majapahit serta Mamala.

Bendera ini disebut sebagai bendera tokoh leluhur Mamala yang bernama “Uka Leka / Lekalahabessy”. Beliau merupakan panglima perang kerajaan Champa yang menemani “Latu Liu” yang merupakan raja kerajaan Champa yang bermigrasi ke Mamala.

Kesimpulan

Bendera ini merupakan salah satu bukti penegasan Islam di Mamala

Saran

Diperlukan upaya penelitian lebih lanjut dalam kajian sejarah yang telah dituturkan di atas

 

 

Referensi

1.     Elie Podeh, The Symbolism of The Arab Flag in Modern Arab States,Between Commonality and Uniqueness,Article in Nations and Nationalism · January 2011

2.     Adrian Frutiger, Signs and Symbols Their Design and Meaning, Copyright © 1989 Weiss Verlag GmbH, Dreieich, West Germany

3.     Ciri-ciri Harimau, Available at https://www.ciri-ciri.id/2017/09/ciri-ciri-harimau.html

4.     Harimau Campa Di Kamus Besar Bahasa Indonesia {KBBI} available at https://lektur.id/arti-harimau-campa/#:~:text=Harimau%20Campa%20Di%20Kamus%20Besar%20Bahasa%20Indonesia%20(KBBI)&text=Harimau%20campa%20adalah%20harimau%20loreng,berasal%20dari%20kata%20dasar%20harimau.

5.     Sahni Rasleen Kaur, Tales of the Tiger, Centre for Environment Education 2006

6.     Citah, https://id.wikipedia.org/wiki/Citah

7.     Djati Palinngam R, Sekilas Tragedi Sejarah Bangsa Champa, available at https://www.kompasiana.com/fadz/5509df858133114e70b1e30d/sekilas-tragedi-sejarah-bangsa-champa

8.     Rub El Hizb, https://en.wikipedia.org/wiki/Rub_el_Hizb

9.     Surya Majapahit,https://en.wikipedia.org/wiki/Surya_Majapahit

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.