Thursday, August 6, 2015

Dewesy, Pelarian Terakhir Nan Haru Ke Mamala



 Sahabat Dewesy semasa sekolah guru di Saparua, Haji Hasan Malawat, saudara sepupu Mohammad Malawat bersama penulis di depan kamar terakhir Dewesy menginap tahun 1950. Foto dibuat tiga tahun lalu semasa Haji Hasan masih hidup dalam usia 88 tahun (foto agung setyahadi)





Catatan Rudi Fofid – Ambon

MALUKU ONLINE, 4 September 2014


"Orang berlomba
Aku berlomba
Aku membuat satu pelarian terakhir"

Jalan hidup Dominggus Willem Syaranamual (Dewesy) laksana drama pendek namun padat. Pattimura Muda dari Saparua ini menoreh sejarahnya yang getir, mengharukan sekaligus manis. Ia berjuang melalui tulisan-tulisan yang sastrawi. Puisi terakhirnya berjudul Pelarian Terakhir bagai nubuat untuk sebuah pelarian abadi ke Negeri Mamala. Ia memang pelaku sejarah yang layak dikenang sepanjang masa.

Dewesy lahir di Itawaka, Saparua, 19 Mei 1926. Ayahnya Dorotheis Syaranamual dan ibunya Jacoba Supusepa, petani Itawaka nan sederhana, namun sangat kukuh menanam budi pekerti kepada puteranya. Hasilnya, Dewesy tumbuh sebagai pemuda yang halus budinya namun kuat dalam pendirian.

Demi studinya, Dewesy rela meninggalkan ayah-bunda, dan tinggal bersama ibu angkatnya di Ihamahu. Setamat Sekolah Rendah Ihamahu tahun 1938, Dewesy masuk Sekolah Pertanian Ihamahu. Akan tetapi cita-cita menjadi guru membuatnya pindah ke sekolah guru Volks Onderwyser Saparua. Lulusannya bisa langsung mengajar di sekolah rendah.

Sekolah guru Volks Onderwyser Saparua pada tahun 1940-1941, pelajaran hanya berjalan enam bulan karena Jepang datang menggantikan Belanda. Sekolah ditutup dan baru dibuka kembali tahun 1943. Pada saat itu, Jepang menguasai Ambon. Tentara sekutu datang menyerang Jepang sehingga Ambon hancur lebur, penuh teror.

Melihat situasi perang, Mohammad Malawat dan sepupunya Hasan Malawat dikirim orang tua mereka ke Saparua, sehingga mereka bertemu Dewesy. Mohammad bahkan sebangku dengan Dewesy. Siswa beragama Islam hanya Malawat bersaudara, Said Latar, Muhammad Haulussy, dan Arsyad Masaila.

“Siswa Muslim cuma saya dan empat lainnya,” terang Hasan Malawat, dalam suatu wawancara semasa hidupnya, tiga tahun lalu.

Suasana peletakan batu pertama renovasi makam Dewesy di Mamala, 29 Agustus 2014 (foto ronal regan)
Dari pergaulan di sekolah guru itulah, Hasan mengaku mengetahui jiwa kepenyairan yang tumbuh mekar pada diri Dewesy dkk. “Mereka semua penyair, tapi Dewesy yang paling menonjol. Jiwanya bagus, buah pikirannya bagus,” ungkapnya. Menurut kesaksian Hasan, Dewesy dkk senantiasa menulis puisi propaganda demi kemerdekaan Indonesia.   Tidaklah heran, mereka kerap berurusan dengan Kantor Kempetai di Saparua. Maka demi mengelabui Kempetai, Dewesy dkk menggunakan nama samaran. “Syaranamual pakai nama samaran Dewesy, Arsyad Masaila memakai nama Ars, Jop Lisapaly bernama Josy sedangkan Mohammad Malawat memakai nama Mom. Mereka semua penyair sejak masa sekolah. Tapi yang paling menonjol adalah Dewesy,” kenang Hasan.

Kiprah kepenyairan Dewesy sudah tumbuh pada usia 16-17 tahun. Dari Saparua, ia mengirim puisinya ke Ambon. Puncak karyanya terekam pada tahun 1949, dalam usia 23 tahun. Pada masa ini, karya-karyanya dimuat di media terbitan Jakarta. Sebelumnya ketika menjadi pegawai Kantor Cabang Kementerian Penerangan Negara Indonesia Timur (NIT) di Ambon tahun 1946, Syaranamual berusia 20 tahun. Saat inilah ia banyak menulis di surat kabar Suluh Ambon dan majalah Zaman Baru.

Jika pada masa Jepang, Dewesy dkk sering diinterogasi Kempetai, maka setelah Indonesia merdeka, tulisan-tulisan Dewesy justru mengundang amarah para bekas tentara KNIL yang mendukung  Republik Maluku Selatan (RMS). Ceritanya, ketika masih ada RI dan NIT, ada kelompok Eliza  Urbanus Pupella, Ot Pattimaipau, Amin Ely dkk yang berorientasi pada NKRI melalui surat kabar Masa. Sedangkan Dewesy dkk di surat kabar Suluh Ambon berorientasi pada NIT. Walau beda orientasi politik, kedua kelompok tetap saling menjalin relasi dan komunikasi.
.
Pasca Konferensi Meja Bundar (KMB) di Denhaag ditandai dengan penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949, kelompok Dewesy dan Pupella malah menjadi musuh RMS, sebab keduanya sama-sama menentang Proklamasi RMS. Militair Inlechting Dien (MID) yakni tentara RMS yang dikenal dengan sebutan baret merah-baret hijau makin bringas. Mereka menguasai Ambon. Wem Reawaru dari kelompok Pupella ditangkap, lantas disiksa secara keji sampai mati. MID juga mengincar Dewesy. Sebab itu Dewesy dikejar sebagai buronan. Ia terus meloloskan diri, tapi kawannya yang memberi tumpangan dan perlindungan, justru menjadi korban. Tahun 1950, Dewesy tinggal bersama keluarga Tuapattinaya di kawasan Benteng. Rumah itu terus diintai tentara MID. Makanya, supaya tak jatuh lagi korban, Dewesy memilih mengungsi ke Kubur Cina di Gunung Nona. Dalam kondisi lelah, lapar kedinginan dan sakit, penyair yang saat itu berusia 24 tahun menulis puisi berjudul Pelarian Terakhir. Dengan mengendap-endap, puisi itu dititipkan kepada seorang wartawan surat kabar Suluh Ambon, melalui jendela kantor redaksi.

Esoknya, surat kabar itu memuat puisi Pelarian Terakhir. Kali ini, tidak lagi menggunakan nama samaran Dewesy, melainkan terang-terangan menggunakan nama lengkap Dominggus Willem Syaranamual. Alhasil, hari itu juga, datanglah tentara MID memporakporanda kantor redaksi Suluh Ambon. Beberapa jurnalis dipukul sampai bersimbah darah. Suluh Ambon pun dilarang terbit. Melihat situasi genting dan tak ada tempat aman untuk bernaung, Dewesy teringat sahabat karibnya Mohammad Malawat di Mamala. Maka setelah lewat tengah malam, dari pantai Benteng, Ia mendayung perahu ke Rumahtiga. Dari situ, barulah ia berjalan kaki memasuki hutan Rumahtiga dan sampai di Mamala.

Perjalanan ini membuat kondisi kesehatannya memburuk. Apalagi, dalam perjalanan, ia hanya minum air kelapa muda. Penyakit malaria yang dideritanya kumat dan disentri pun menyerang. Sebenarnya, pelariannya ke Mamala ini bukanlah pengalaman pertama mencapai negeri itu. Mohammad sudah sering mengajak Dewesy ke Mamala.  Dewesy bahkan akrab dengan penduduk Mamala, yang juga bersimpatik kepadanya. Namun kali ini, Dewesy tidak punya kesempatan bergaul dengan orang Mamala sebagaimana kedatangannya pada hari-hari yang lain. Sebab, begitu tiba di Mamala, Dewesy langsung masuk kamar dan terbaring sakit. Malaria berat dan diare itulah yang membuatnya jadi lemah dan payah. Orang Mamala berjuang mengobati sakitnya, tapi kondisi Dewesy tidak tertolong. Ia menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Mohammad, pada 22 November 1950, tiga hari setelah tiba di Mamala.

Warga Muslim Mamala lantas mengurus jenazah Dewesy untuk dimakamkan. Mereka sempat menemukan naskah tulisan tangan puisi Pelarian Terakhir, di saku kemeja Dewesy. Pekerjaan memandikan jenazah, membuat keranda, mengusung ke pemakaman dan menurunkan ke liang lahat, dilakukan oleh warga Muslim. Di Mamala saat itu, terdapat beberapa guru Kristen yakni Talakua, Soselissa, Siahaya dan Lainsamputty. Merekalah yang menyiapkan ibadah pemakaman menurut tata ibadah Gereja Protestan Maluku (GPM). Ibadah pemakaman dipimpin Guru Siahaya. “Orang Mamala senang dengan Syaranamual. Sebab budi pekertinya bagus, pembawaannya bagus dan tulisannya juga manis dan tajam,” ujar Hasan.

Menurut catatan Takaria, Dewesy punya seorang kekasih bernama Nona Jo. Asmara Dewesy dan Nona Jo, bahkan sudah terjalin sejak masih sekolah guru di Saparua. Keduanya tetap saling setia walau tidak sampai ke jenjang pernikahan. Nona Jo dan orang tua Dewesy sempat dating ke Mamala. Mereka tak bertemu Dewesy, melainkan hanya selembar foto profil Dewesy yang dibawa pulang. Karena Dewesy mati bujang, Nona Jo pun pindah ke Bandung dan membujang sampai usia senja.

KARYA

Setelah Dewesy tiada, beberapa usaha telah dilakukan untuk mengabadikannya, selain makamnya di Mamala. Ada beberapa buku pernah diterbitkan untuk mendokumentasikannya. Buku Balada dari Mamala ditulis Teon Teuno, diterbitkan sebagai buku pelengkap pelajaran PGSMTP Negeri Ambon tahun 1988/1989. Teon Teuno adalah nama samaran penulis dan wartawan Jop Lasamahu. Lasamahu pernah menjabat Pemimpin Redaksi harian Suara Maluku dan Ketua PWI Maluku. Buku karangannya pernah menjadi pegangan para pelajar dan mahasiswa di Maluku.

Dosen dan perempuan penyair Marianna Lewier menulis skripsi strata satu di FKIP Unpatti Ambon. Judulnya, Puisi-Puisi Karya Dominggus Willem Syaranamual, Suatu Tinjauan Semiotika Sosial (1993). Terakhir, tahun 2008, muncul Biografi Dominggus Willem Syaranamual yang ditulis Drs D. Takaria.

Pusat Dokumentasi Sastra HB Yasin di Taman Ismail Marzuki Jakarta, mendokumentasikan sebagian besar karya Syaranamual. Dari sini, barulah diketahui sang penyair sudah punya akses dengan media-media Jakarta, pada masa pasca kemerdekaan yang belum lancar sarana transportasi dan komunikasinya.

Karya-karya Dewesy yang sempat terdokumentasikan adalah Sesudah Aku Hamil (prosa di Majalah Siasat, 1949), naskah drama Ibu Angkat (belum sempat dipublikasi), dan puisi-puisi Ada Satu Cerita (Siasat, 1949), Kita Hanya Satu (Mimbar Indonesia, 1949), Musim Cengkih (Siasat, 1949),  Pasang-Surut (Mimbar Indonesia, 1949), Sumpah (Mimbar Indonesia, 1950), Surat dari Laut (Mimbar Indonesia, 1949) dan Pelarian Terakhir (Suluh Ambon, 1950). Puisi dan prosa lainnya tersebar di majalah Zaman dan surat kabar Suluh Ambon, namun tidak terdokumentasikan. Puisi Pelarian Terakhir bukan saja terkenal karena menjadi karya terakhirnya, tetapi juga menyimpan kisah heroik dan pergulatan batin yang utuh. Penyair Roy Lemosol sempat membacakannya di atas tanah makam, Jumat (29/8) lalu, saat upacara peletakan batu pertama pemugaran makam.

PELARIAN TERAKHIR

Baru saja terang membenam hari
Membayang lagi mega merah asap kebakaran
Membawa makluk lari berlepas diri
Pilih ! Mati atau hidup
Di sini masih ada orang kuat lari
Berlomba dengan maut
Sedang aku berharap dengan laut
Aku turun ke laut
Tapi bukan anak laut
Aku mau tamatkan ini lembaran
Dalam kelam hari
Biar dengan pedoman
Pada hanya sebuah bintang
Yang lagi bercahaya
Orang berlomba
Aku berlomba
Aku membuat satu pelarian terakhir
Ambon, 1950


Bangunan makam yang sudah berusia 40 tahun yang sebagian besarnya sudah hancur. Foto dibuat tiga tahun lalu, tidak berbeda dengan tahun 2014 (foto rudi fofid)


KOIN UNTUK MAKAM DEWESY

Saat dimakamkan tahun 1950, makam Dewesy terletak di tengah Negeri Mamala. Tahun 1974, setelah 24 tahun, pemukiman penduduk makin padat sehingga makam Dewesy makin terjepit. Sebab itu Raja Mamala memindahkan makam ke halaman persekolahan Muhammadiyah Mamala. Kini setelah 40 tahun, makam yang baru itupun telah lapuk dan rusak di bawah terik matahari dan guyuran hujan. Lumut dan tumbuhan paku-pakuan juga membuat bahan semen menjadi keropos. Tiga tahun lalu, ketika sejumlah penyair, jurnalis, guru dan aktivis rajin ke Mamala, mereka sempat menengok makam tua yang sudah hancur. Dari situ, muncullah ide untuk pemugaran makam.

Laporan media tentang kondisi makam sebenarnya sudah diketahui pemerintah. Namun karena tidak ada upaya pemugaran, maka para penyair dan aktivis lingkungan tergerak berinisiatif membuat aksi swadaya. Maka pada 28 Agustus lalu, bersamaan dengan peluncuran Antologi Puisi Penyair Maluku berjudul Pemberontakan dari Timur, penyair dan pendiri Perhimpunan KANAL Maluku menggagas aksi Koin Untuk Dewesy. Dana awal sekitar Rp 1 juta terkumpul dari peserta diskusi. Esoknya, Raja Mamala langsung meresmikan pemugaran makam dengan meletakkan batu pertama di atas makam, diikuti kalangan penyair dan sastrawan, guru hingga pelajar. Sambil menunggu musim penghujan reda, Tim Kerja Renovasi Makam yang dipimpin penyair M. Azis Tunny terus menggalang dana sukarela dari para simpatisan. “Sebab kami tak sekadar memperbaiki makam, melainkan juga kawasannya supaya menjadi monument persahabatan dan persaudaraan, sekaligus menjadi asset wisata sejarah, sastra dan budaya di Mamala,” ungkap Tunny.

Seniman dan aktivis perdamaian internasional Pdt Jacky Manuputty mendukung pemugaran makam di Mamala. Ia bahkan menyebut, makam harus tetap di Mamala dan tidak perlu dipindahkan, sekalipun ke Taman Makam Pahlawan Kapahaha. Kalau sampai dipindahkan, menurutnya, itu sama saja dengan mencabut Dewesy dari akar sejarah. “Di balik makam itu tersimpan bukan cuma kebesaran seorang Dewesy dalam bersyair, tetapi juga relasinya sebagai seorang pemeluk Kristen dengan Masyarakat Muslim Mamala. Relasi persaudaraan melintasi batasan agama. Bahkan sebuah lambang salibpun dibiarkan terukir di makamnya, bersama ornamen simbolik ke-Maluku-an lainnya. Ada sejumlah kearifan lokal tersimpan di balik tampakan simbolik itu, yang darinya kita patut belajar kembali saat ini,” papar Manuputty.

Keharuan pada kenangan dan sejarah yang melekat pada riwayat Dewesy, telah menjadi inspirasi berbagai kalangan masa kini. Dino Umahuk mengaku mempunyai seorang guru imajiner dalam bersastra. Guru tersebut tidak lain adalah Dewesy sendiri.   Sementara perempuan penyair asal Morella Faidah Azus Sialana menyatakan, semasa kecilnya di sekolah, puisi yang dibacakan dalam lomba-lomba adalah Pelarian Terakhir. Sineas muda Rifky Santiago Husein, si “Provokator Damai” terinspirasi dengan drama kehidupan dan kematian dewesy. Rifky kini sedang melakukan riset awal untuk film yang akan digarapnya berjudul Pelarian Terakhir. Judul puisi Dewesy menjadi judul film Rifky. Makam Dewesy baru akan dipugar setelah musim penghujan berakhir, pertengahan September ini, setelah dana terkumpul. Film Rifky baru akan digarap tahun 2015, setelah kegiatan riset dan pra produksi  selesai. Akan tetapi, melihat spirit dan respon kaum muda maupun tokoh senior seperti Riris Sarumpaet dan Yvonne de Fretes dengan mata basah di atas makam Dewesy, sudah terasa bahana cetusan Dewesy:  Membayang lagi mega merah asap kebakaran/ Membawa makluk lari berlepas diri/ Pilih ! Mati atau hidup. 

(Maluku Online/Editor rudifofid@gmail.com)


Catatan : Kuburan Dewesy yang patut dijaga, menjadikan Mamala sebagai negeri berkultur Islami yang kental, dengan nilai toleransi yang sudah terbukti. Bangga sekali dengan almarhum Bapak Hi Hasan yang memperlihatkan keteladan yang patut ditiru. Perjalanan hidup Dewesy penuh dengan nilai persahabatan, perjuangan, percintaan dan nasionalisme putra Maluku yang patut diteladani...

3 comments:

  1. Kisah perjalanan Dewesy (Minggus) sangat mengahrukan .... Mamala merupakan tempat pelarian terakhir. Keterbukaan serta toleransi masyarakat Mamala telah dibuktikan sejak zaman dahulu kala hingga saat ini.

    ReplyDelete
  2. Hal ini jmengingatkan dan menjadikan momentum kilas balik bahwa Negeri Mamala yang secara adat merupakan Induk Uli Sailessi yg beranggotakan Negeri Latu, Negeri Loyen (Loyjen), Negeri Polut dengan salah satu soanya berasl dari Negeri Porto, Negeri Hausihol, dan Negeri Liang (Lien)...Untuk menjunjung tinggi nilai2 tradisi leluhur di Maluku yang berlandaskan nilai2 Siwalima.

    ReplyDelete

Note: Only a member of this blog may post a comment.