Wednesday, August 19, 2015

Sapa Bale Batu, Batu Bale Dia: Politik Revivalisme Tradisi Siwa lima Orang “Ambon” Pasca Konflik (Bagian 1)



Sapa Bale Batu, Batu Bale Dia1: Politik Revivalisme Tradisi Siwa lima Orang “Ambon” Pasca Konflik
Hatib Abdul Kadir2

Abstrak
Tulisan ini membahas tentang definisi siwa lima dan proses kemunculannya kembali karena dianggap mempunyai nilai pasifikasi serta rasa persatuan dalam menjaga perdamaian di Ambon pascakonflik.  Redefinisi siwa lima sangatlah mendesak, mengingat pendukung kebudayaan di Pulau Ambon sangatlah beragam, terdiri beragam sub etnis dan pengguna bahasa lokal yang diketahui masih aktif sebanyak 117 dari jumlah bahasa lokal yang pernah ada kurang lebih 130-an. Disamping itu, munculnya modernitas semakin memperkuat munculnya polarisasi antara agama Islam dan Kristen yang dipeluk oleh mayoritas masing-masing sub etnis. Menghidupkan kembali siwa lima adalah sebuah proses pencarian identitas diri, mencari tahu siapa diri orang Ambon sesungguhnya, sehingga dapat dijadikan sebagai modal sosial untuk menjalin persatuan dan kebersamaan.

Kata Kunci
Tradisi, revivalisme, Ambon, siwa lima, konflik, identitas, etnis, modernitas

Pendahuluan

Pada suatu waktu hiduplah tiga bersaudara yang tinggal di bawah sebuah pohon beringin di Gunung Nunusaku. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari datangnya banjir bandang. Setelah banjir mereda, mereka berpisah dan pergi dengan mengikuti arah cabang pohon yang ditunggangi disaat banjir. Tiga saudara laki-laki ini dipercaya sebagai nenek moyang awal di pulau Seram. Ulisiwa adalah kakak yang paling tua, Ulilima adalah kakak kedua dan Uliassa adalah yang bungsu. Keturunan dari si bungsu Uliassa hingga kini menempati beberapa wilayah di kepulauan Ambon, Haruku, Saparua dan Nusalaut. Sedangkan Ulilima dan Ulisiwa tetap tinggal di Seram, kemudian dari anak pinak mereka inilah dinamakan Pata Siwa dan Pata lima, yang dimasing-masing desa pasti memiliki perserikatan ini.Keduanya hidup dalam kerjasama sosial dan ekonomi. Hingga pada akhirnya Pata Siwa lebih mengaliansikan kelompoknya pada Portugis dan masuk ke dalam sebuah agama baru bernama Kristen. Sedangkan ”si adik”, kelompok Pata lima memeluk agama Islam (Bartels, 2-6: 1979; 15:2003; Hulsboch 224: 2004)3.

Gb.1. Filosofis Orang Maluku

 Salah satu versi lainnya misalnya, agama nunusaku adalah agama asli yang mengunifikasikan semua masyarakat di Maluku Tengah. Semenjak perang saudara, yang diawali oleh cerita tentang seorang perempuan menari di tengah tarian dikelilingi oleh orang-orang muda yang menginginkan tubuhnya, akhirnya ia meninggal di tari 9 lingkaran di Nunusaku. Lantas pecahlah persekutuan, mengingat tidak ada satu orang pun yang mau mengaku siapa sesungguhnya yang membunuh perempuan tersebut. Terjadi migrasi besar-besaran orang-orang Pata lima ke pesisir, sehingga membentuk klan baru, sehingga saat ini dapat kita temui wilayah dengan nama “negeri lima“ di kepulauan Hitu dan orang-orang dengan marga siwalete, tomalima di Seram Timur, terdapat pula marga talalima, faolima,
pesolima. Siwa lima mempunyai banyak versi. Namun dari beragam versi tersebut, pesan yang hendak disampaikan adalah dulu orang Nunusaku tinggal secara berdampingan.

Masyarakat Maluku Tengah mempercayai bahwa asal-usul kosmologi siwa lima berasal dari orang Alifuru di pulau Seram yang terbagi atas empat kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok di Seram Timur. Kelompok ini tidak memiliki hubungan sedikitpun dengan tetangga-tetangga mereka. Kelompok kedua adalah kelompok Pata lima (kata pata dimaksudkan sebaga klen atau kelompok). Kelompok ketiga adalah kelompokPata Siwa putih dan kelompok ke empat adalah kelompok Pata Siwa Hitam 4 yang bertempat tinggal di Seram bagian Barat5.

Tulisan ini membahas tentang definisi siwa lima dan proses kemunculannya kembali karena dianggap mempunyai nilai pasifikasi serta rasa persatuan dalam menjaga perdamaian di Ambon pascakonflik. Menemukan redefinisi seperti apa konsep siwa lima yang sesuai. Pata Siwa dan Pata lima mempunyai arti orang yang ke 9 dan orang yang ke 5 (Ajawaila,2009: 4).Narasi diatas adalah salah satu dari puluhan, mungkin ratusan versi munculnya Pata Siwa dan pata lima. Namun demikian, terdapat kesepakatan umum bahwa tradisi Pata Siwa dan Pata lima di Seram ini dianggap sebagai sentrum dari tradisi tertua lainnya. Nenek moyang orang Seram dipercaya sebagai pusatnya kehidupan di bumi. Terdapat kepercayaanbahwa masyarakat kuno Seram mempunyai agama Nunusaku, sebagai agama tertua di Maluku, ada bersamaan dengan munculnya pulau Ibu dari dasar laut. Berangkat dari sinilah muncul manusia pertama yang menyebar dan berkembang biak diseluruh pulau Seram dan Maluku. Persebaran menyebabkan semakin kompleksnya kebudayaan masyarakat yang semakin terklasifikasi dalam kluster-kluster berdasarkan marga, sistem mata pencaharian,
organisasi sosial dan agama.

Bersambung..........
Keterangan:
1 Istilah ini secara harfiah berarti “siapa membalikkan batu, batulah yang akan membalikkan dia” bermakna pamali atau pantangan yang menjadi tradisi orang Ambon untuk harus tetap menjaga tradisi dari orang tua kita kakek/nenek moyang. Pamali berawal dari banyaknya kasus yang terjadi karena melanggar pantangan tersebut.

2 Staf pengajar antropologi di Universitas Brawijaya. Email: kedang_ori@yahoo.com
3 Komposisi Pata Siwa sebagai Kristen dan Pata lima sebagai Islam ini sebenarnya agak rancu di Maluku Tengah. Karena sistem invasi kerajaan Ternate di Maluku Tengah mengubah masyarakat asli untuk masuk Islam, sedangkan Tidore cenderung membiarkan masyarakat adat untuk tetap memeluk kepercayaan adat dan agama suku bangsa mereka. Pada masa kolonial, Belanda berperang dengan Ternate, sehingga terjadi perubahan komposisi pranata sosial di Maluku Tengah. Beberapa kampung Islam Pata lima banyak yang masuk Kristen dan menjadi Pata Siwa. Sebagai misal kampung Prof. Mus Huliselan (mantan rektor Universitas Pattimura), Molot di Maluku Tengah, adalah Pata lima, namun jika dicermati semua adat yang diterapkan dan orientasi Baileo (rumah adatnya) adalah Pata Siwa. Hal ini karena Molot dahulu adalah kampung Islam yang masuk Kristen dan mengubah menjadi Pata Siwa. Rumphius melaporkan bahwa imam-imam di kampung Molot pada 1600an mulai mengganti kepercayaan mereka. Demikian pula pada kampung Hulaliu di Pulau Pelaw, Maluku Tengah, yang masuk Kristen dan mengubah menjadi Pata Siwa ke Pata lima. Pada masa kolonial, terjadi pemindahan demografi secara besar-besaran. Salah satunya adalah pemindahan masyarakat dari Seram ke Pulau Ambon, demikian juga orang-orang dari Hitu dipindah ke Ruhu, sehingga segregasi Pata Siwa dan Pata lima menjadi demikian kocar-kacir. Kontestasi politik ini berbeda dengan model siwa Lima di Aru dan di Maluku Tenggara, dimana unsur agama tidak begitu mempengaruhi orientasi siwa dan lima. Dengan demikian sulit sekali menelusuri secara tepat genealogi siwa Lima dengan narasi penafsiran yang tunggal. Informasi dari Prof. Huliselan, 21 Oktober 2009.
4 Perbedaan antara Pata Siwa Putih dan Pata Siwa Hitam secara jelas terletak pada penanda tubuh  mereka. Anggota Pata Siwa Hitam membuat tato sebagai tanda keanggotaan, sekaligus juga sebagai anggota rahasia kakehan. Kakehan sendiri berarti tanda.
5Meskipun demikian beberapa penduduk di pantai di Seram bagian Barat termasuk dalam  kelompok Pata Siwa putih seperti desa Lisabata, Noniali dan Sukaradja (Ajawaila, 2009: 7).

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.