Thursday, August 20, 2015

Sapa Bale Batu, Batu Bale Dia: Politik Revivalisme Tradisi Siwa lima Orang “Ambon” Pasca Konflik (Bagian 2)




Tulisan ini membahas tentang definisi siwa lima dan proses kemunculannya kembali karena dianggap mempunyai nilai pasifikasi serta rasa persatuan dalam menjaga perdamaian di Ambon pascakonflik. Menemukan redefinisi seperti apa konsep siwa lima yang sesuai dengan masyarakat Ambon yang semakin beragam. Membangkitkan kembali sentimen adat dan tradisi lama bukan hanya untuk membantikan identitas yang resisten (Castells, 1997: 2), namun juga untuk memobilisasi massa berdasarkan kesamaan memori  kolektif terhadap masa lalu, etnisitas, lokalitas, ketuhanan, kebangsaan, dan kesamaan bahasa (Hobsbawm, 1993: 2; Henley dan Davidson, 2007: 13). Revivalisme adat atau yanmenjadi sangat penting karena ia dianggap budaya yang paling ”asli” dan ”tunggal” sebelum datangnya kluster-kluster agama-agama modern, kapitalisme modern dan solidaritas negara bangsa (Henley dan Davidson, 2007: 17, 31). Kearifan siwa lima diharapkan mampu menjadi penengah diantara munculnya polarisasi masyarakat Ambon dalam bentuk segregasi antar umat Islam dan Kristen, segmentasi antar entis serta polarisasi antara kaum pendatang dan masyarakat asli. Banyak analis melihat bahwa siwa lima semakin terlupakan seiring dengan modernisasi yang terjadi pada masyarakat Ambon. Kearifan lokal ini dianggap ”ketinggalan jaman” dan tidak mempunyai  ide yang sesuai dengan semangat modernisme. Karena itu, saya akan menelusuri trajektori orang Ambon yang mengalami modernisasi semenjak abad 18, sehingga akan ditemukan logika mengapa kemudian siwa lima menjadi kearifan lokal yang terlupakan.

Munculnya Modernitas Orang Ambon6, Polarisasi Islam-Kristen dan Tercerabutnya Tradisi

Modernitas orang Ambon mulai terbangun semenjak kekuatan kolonial membangun pulau ini berdasarkan rasionalitas klas penguasa, dengan menciptakan kluster-kluster berdasarkan ras, etnisitas dan agama. Layaknya wilayah lainnya di nusantara, dibawah pemerintahan resmi Belanda, penduduk di Pulau Ambon secara vertikal dibagi ke dalam tiga kelompok, yang mengacu kepada ras, yakni masyarakat Eropa (Vrijbugerij), orang-orang Cina dan kaum sipil urban (Burgerij). Kategori pertama adalah orang Portugis yang masih menetap meski Belanda telah menguasai seluruh pulau Ambon. Mereka juga disebut sebagai Casado. Sedangkan masyarakat ketiga disebut pula sebagai kaum Mardijker. Hingga detik ini keturunan mereka masih menempati sebuah wilayah yang disebut Mardika. Kaum pribumi mempunyai posisi istimewa meskipun otoritas menciptakan keputusan sangat terbatas.

Diciptakannya pola kepemimpinan dalam masing-masing kelompok non-Eropa merupakan strategi adaptasi pemerintah untuk menggabungkan sistem politik koloni dengan bentuk pemerintahan adat atau masing-masing etnis. Layaknya kota kolonial lainnya, internal Ambon disegregasi dan diklasifikasi berdasarkan kekuatan ekonomi dan politik masyarakat dan bukan berdasarkan rasionalitas persekutuan siwa lima.

Pulau Ambon mengalami modernitas ketika terjadi peralihan dari kota kerajaan ke kota kolonial. Munculnya kota kolonial, otomatis merubah wajah sistem sosial masyarakat nya, dari yang berpegangan pada pekerjaan agraris ke arah perdagangan (Bartels, 287: 1979). Pada pertengahan abad 17, Ambon juga disebut sebagai wilayahnya orang migran, karena penduduk asli Ambon hanyalah sebesar 5%, sedangkan sisanya sebesar 95% adalah pendatang. Dengan kata lain, pada tahun 1694 penduduk Ambon hanya sebesar 274 jiwa dari 4.487 jiwa dari keseluruhan warga di kepulauan Ambon. Pertumbuhan kaum urban muncul pula secara pesat. Ambon menunjukkan wajah kosmopolitannya. Munculnya kaum migran ini otomatis mengaburkan dualisme konsep siwa lima yang dipandang hanya bermuatan oposisi biner, gunung-laut; hitam-putih. Pesatnya pendatang tentu semakin mengabaikan kosmologi ini.

Hingga di Abad 19, agama Kristen berkembang pesat. Gereja-gereja terbangun dan tumbuh dengan terorganisir secara kuat (Cooley, 143-4: 1961; Abdul Kadir, 35-51: 2009). Masuknya urban Ambon ke agama Kristen, merupakan peralihan dari Katolik yang dianggap kejam dan tukang menjarah. Juga mereka tidak memilih Islam dikarenakan identik dengan tukang penginvasi dari utara yakni kerajaan Ternate dan Tidore7. Meskipun pada akhirnya masih meninggalkan pertanyaan bahwa aliansi ke dalam agama Kristen cenderung bersifat politis dibanding refleksi relijiius yang mendalam. Konstruksi kekuasaan mengacu kepada kegiatan-kegiatan agama Kristen seperti komuni suci yang mentransfer kekuasaan dan kekuatan Belanda terhadap penganut Kristen di Ambon (Bartels, 1979: 287; 2003: 12). Umat yang beralih memeluk agama Kristen, tidak hanya akan mendapatkan tingkatprevilese yang lebih dibanding orang Cina maupun migran Jawa, Makassar dan Buton, melainkan juga mereka akan aman dari serangan kelompok etnis lainnya yang tidak memeluk agama Kristen. Menjadi Kristen selama masa koloni adalah menjadi orang modern, berpendidikan, berperadaban dan akan mempunyai status lebih berkuasa di tingkat struktural pemerintahan lokal.

Transfer kekuasaan “White Power” koloni terasa tatkala Belanda memperkenalkan sistem pembapitsan dan sakramen terhadap tubuh orang-orang Ambon. Jika sebelumnya pada masa head hunting kekuatan dan kesucian tubuh berparamater pada sejauh mana tenggorokan pernah dibasahi oleh darah lawan, maka makna tubuh suci modern dan kekuatannya beralih ke sepotong roti suci dan secawan anggur yang dipercaya sebagai manifestasi Tubuh dan darah Kristus (Bartels, 287: 1979). Selanjutnya Knaap mengestimasikan bahwa sepeninggal Portugis pada tahun 1605 ada sekitar 16 ribu orang Ambon yang dibaptis di Lei Timor dan di kepulauan Lease8 (Knaap, 1987: 83 via Chauvel 1990: 18). Ritual baptisme melalui pemandian suci merupakan purifikasi tubuh yang sekaligus membatasi manusia lama menjadi manusia baru. Menjadi siap modern adalah beragama Kristen dan terpisah dengan masyarakat pagan sebelumnya. Terjadi ruang pemisahan tubuh antara kelompok bersih dan suci (Kristen, Ambon dan orang kota) dan kelompok kotor (Islam, pesisir, masyarakat pedalaman seperti di Alifuru). Pengalaman relijius tidak pernah mandi suci memisahkan urban Kristen dengan mereka yang belum pernah melakukannya, dan distereotipekan sebagai manusia yang tidak tercuci (unwashed people) yang tidak bersih. Hingga tahun 1935, para pemimpin gereja reformis yang dikomandoi oleh GPM (Gereja Protestan Maluku) melakukan serangkaian tindakan purifikasi secara ofensif terhadap para penganut adat hingga ke desa-desa. Di titik inilah kemudian kolonialisasi dan agama menjadi aktor penentu dalam memodernkan pilihan-pilihan untuk menentukan kemana hendak diarahkan tubuh ketika menghadapi perubahan. Modernisasi agama mengubah konsep kosmologi siwa lima yang pada awalnya adalah persekutuan adat an sich, mengerucut pada polarisasi antara siwa yang identik dengan Kristen dan lima yang identik dengan Islam. Belanda mempunyai logika modernisme dengan menciptakan elit-elit lokal baru dibanding harus merawat adat istiadat masyarakat jajahan.

Tepatnya tahun 1882, disebutkan bahwa dari jumlah jiwa di kepulauan Ambon (Haruku, Saparua, dan Nusalaut) jumlah kaum muslim mencapai 28,3% atau berjumlah 16.693 manusia dari total 58.893 jiwa. (Hulsboch 129: 2004). Di marjinalkannya komunitas Islam sepanjang masa koloni, membuat agama ini lebih statis dalam mempertahankan nilai tradisional Ambon. Belanda tidak memperkenalkan kepada komunitas Islam, sistim pendidikan yang berlanjut pada sistim pekerjaan modern. Sehingga kaum muslim nyaris tidak mengenal alokasi dana untuk belanja pakaian dan juga tidak tertarik dengan gaya hidup modern (Chauvel 35-8: 1990; Hulsboch, 106: 2004). Sedangkan modernitas orang-orang Islam di kota ini masuk secara belakangan dibanding orang-orang Kristen. Pada tahun 1933 gerakan-gerakan purifikasi yang menyerang takhyul dalam adat mulai marak, salah satunya adalah dengan didirikannya sebuah masjid besar di tengah kota yang kini lebih dikenal dengan Masji Al-Fatah. Konflik antara penerimaan Islam progresif dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional cenderung terjadi dengan hebat dan berdarah-darah di wilayah luar Ambon, seperti pada orang-orang Haruku dan Pelauw, sebuah wilayah yang berada di ujung timur Pulau Ambon. Gerakan purifikasi yang digiring oleh Islam juga dilakukan terhadap masyarakat urban Ambon. Masuknya dua agama besar di Ambon (Kristen dan Islam) membuat warga urban mengalami peralihan kebimbangan antara tetap mempertahankan tradisi leluhur atau mulai memasuki agama modern. Gerakan purifikasi, baik pada masyarakat Islam maupun Kristen mau tak mau mengancam keberadaan kosmologi siwa lima yang dianggapnya penuh takhyul adat, bid’ah, kolot dan tak suci. Tak lama kemudian, modernitas mulai mengikis keperacayaan terhadap satu-satunya tradisi agama Nunusaku dan tunggalnya adat serta nenek moyang orang Ambon.



Periode pascakolonial di tahun 1950an, masyarakat Ambon telah mengalami semacam “kebingungan” identitas, sebagaimana yang digambarkan oleh disertasi Cooley di Yale University mencatat bahwa:This period has been a time in which the youth have come increasingly to the fore.Educational opportunities have grown tremendously. Moluccan Christians have beenconfronted by more self-conscious and aggressive Moluccan Muslims. Indirect governmentthrough the Village Councils by a colonial government has been replaced by directgovernment by Indonesians, themselves determined to build a new nation. This set ofcircumstance here referred to broadly as "rapid social change"…The adat system has furtherbroken up. Only particular parts of it remain. More important still, respect for and relianceon adat has suffered grievously, particularly amongst the younger generation.(Cooley,155:1961).

Pasca revolusi, secara garis besar orang Ambon terbagi dalam dua karakteristik, yakni kaum modernis  dan tradisionalis. Golongan pertama adalah mereka yang tinggal di kota, berpendidikan, dan mempunyai orientasi nasionalisme serta mempunyai ikatan terhadap imaji negara bangsa secara kental. Sedangkan golongan kedua adalah mereka yang masih menempati desa dan terikat kuat dengan nilai-nilai adat seperti misal tetap berpegangan pada kearifan siwa lima. Meskipun demikian, kesamaan dari keduanya adalah tetap bergelayut dengan dunia tradisional bagi mereka yang modern, dan berhasrat mengetahui peradaban di luar yang modern bagi mereka yang tradisionalis. Pada titik inilah kemudian orang-orang Ambon Modern sebenarnya mulai meninggalkan tradisi siwa lima dengan berpegangan pada model “kearifan filosofis” baru yang ditawarkan oleh agama dan Negara bangsa baru, seperti Pancasila.

Orang Kristen adalah komunitas yang paling merasa terganggu dengan datangnya ide nasionalisme tentang Keindonesiaan. Baginya, dominasi kulit putih adalah lebih baik dibanding dominasi Indonesia, sebuah negara yang baru dikenal. Dekolonisasi menyebabkan perubahan komposisi pemerintahan. Tidak ada lagi keistimewaan status yang diasosiasikan dengan Belanda. Pada saat yang sama muncul gelombang migran yang disebut sebagi “Islam Pendatang” atau ”orang dagang”. Rata-rata dari mereka menempati lahan kosong yang tersedia di sepanjang bantaran sungai dan pesisir pantai kota (Mearns, 25: 1999; Benda Beckmann, 2007: 15-25). Jumlah orang muslim kemudian semakin membludak hingga mencapai puncak di pertangahan tahun 1990-an.

Transformasi mulai berjalan karena yang berhak mendapatkan pendidikan, previlese, dan gaya bukan hanya anak muda Kristen, namun juga anak-anak muda Islam yang tinggal di Ambon. Kaum migran ini rata-rata berasal dari Buton, Makassar, Bugis, Jawa dan sisa-sisa dari kepulauan Maluku yang terpencar. Hingga menjelang tahun 1995 gelombang migran muslim membengkak nyaris menyamai jumlah kaum urban Kristen. Ketika itu populasi kota ini mencapai 311,000, 52.9 jiwa. Jumlah Kristen sebanyak 41,7 persen, katholik 5,2 persen . Layaknya komposisi sebelumnya, komunitas Islam menempati wilayah pesisir pantai, dengan membentuk komunitas-komunitas pedagang di pasar. Para migran muslim rata-rata bekerja sebagai pedagang, sedangkan kebanyakan Kristen mewarisi tradisi yang telah terbangun selama masa kolonial, yakni bekerja dijasa birokrasi. Meski demikian hingga tahun 1999, setidaknya terdapat 74 persen muslim yang menempati elit pemerintahan (Basorie, 62-3: 2005; ICG Asia Report, 2: 2000). Ketakutan terhadap sebentuk hegemoni yang akan lahir dari satu sisi golongan misalnya, menjadi klausul yang cukup menjadi alasan untuk kembali memunculkan ide tentang siwa lima. Namun, semangat ini menjadi tantangan pesatnya perkembangan Islam garis keras pasca konflik memandang negatif kearifan lokal asli masyarakat Ambon ini, karena dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang murni selayaknya di Timur Tengah.


(Bersambung....)

Keterangan:
6 Kata Ambon disini sebenarnya agak rancu, mengingat ia tidak hanya mengacu pada kota Ambon, namun juga mengacu pada Pulau Ambon dan sekitarnya (Pulau Buru, Pulau Banda), serta orang-orang di kepulauan Maluku Tenggara yang mendefinisikan sebagai “orang Ambon“ tatkala mereka berada di luar Maluku. Kata ini sengaja saya pilih karena mempunyai makna yang fleksibel secara identitas dan geografis, dibanding saya harus menggunakan kata “Maluku Tengah“, “Seram“ atau “Maluku Tenggara“
7 Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa bahwa Pata Siwa dan pata lima bukanlah kearifan lokal yang berasal dari Seram, melainkan berasal dari Kesultanan Tidore dan Ternate. Pata Siwa mempunyai pertaliannya dengan Ternate dan Pata lima dengan Tidore. Alasan munculnya pembagian Pata Siwa dan pata lima adalah adalah untuk memecah belah orang Seram agar lebih mudah ditaklukan. Berbagai catatan sejarah memperlihatkan bahwa orang Ternate dan Tidore terus bersaing paling tidak sejak tahun 1450.
8 Orang-orang di Kepulauan Lease meliputi orang Ambon, Saparua Nusalaut, Haruku, dan Molana



No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.