Thursday, September 10, 2015

Tujuh Negeri Ulilima Di Tanah Hitu


Seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, Kepulauan Maluku khususnya Pulau Ambon memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia secara keseluruhan. Daerah kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah ini sudah dikenal di dunia internasional sejak dahulu kala. Pada awal abad ke-7 pelaut-pelaut dari daratan Cina, khususnya pada zaman Dinasti Tang, kerap mengunjungi Maluku untuk mencari rempah-rempah. Namun mereka sengaja merahasiakannya untuk mencegah datangnya bangsa-bangsa lain ke daerah ini. Pada awal abad ke-9 pedagang Arab berhasil menemukan Kepulauan Maluku setelah mengarungi Samudra Hindia. Para pedagang ini kemudian menguasai pasar Eropa melalui kota-kota pelabuhan seperti Konstatinopel.

Pada Abad ke-14 merupakan masa ke-emasan perdagangan rempah-rempah Timur Tengah yang membawa agama Islam masuk ke Kepulauan Maluku melalui pelabuhan-pelabuhan Aceh, Malaka, dan Gresik, antara 1300 sampai 1400. Pada abad ke-12 wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya meliputi Kepulauan Maluku. Pada awal abad ke-14 Kerajaan Majapahit menguasai seluruh wilayah laut Asia Tenggara. Pada waktu itu para pedagang dari Jawa memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Di masa Dinasti Ming (1368 – 1643) rempah-rempah dari Maluku diperkenalkan dalam berbagai karya seni dan sejarah. Dalam sebuah lukisan karya W.P. Groeneveldt yang berjudul Gunung Dupa, Maluku digambarkan sebagai wilayah bergunung-gunung yang hijau dan dipenuhi pohon-pohon cengkeh sebuah oase di tengah laut sebelah tenggara.

Marco Polo juga menggambarkan perdagangan cengkeh di Maluku dalam kunjungannya di Sumatra. Maluku memiliki sejarah penindasan dan penjajahan yang panjang mengingat daerah ini telah dikuasai bangsa asing selama kurang lebih 2300 tahun lamanya dengan didominasi secara berturut-turut oleh bangsa Arab, Portugis, Spanyol, dan Belanda. Melalui perdagangan dengan para pedagang Muslim, bangsa Venesia kemudian datang untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dari Eropa antara 1200 dan 1500, melalui dominasi atas Mediterania ke kota pelabuhan seperti Iskandariyah (Mesir), setelah jalur perdagangan tradisional mulai terganggu oleh Mongol dan Turki. Dalam menunjang monopoli ini kemudian mereka ikut serta dalam Abad Eksplorasi Eropa.

Portugal mengambil langkah awal penjelajahan dengan berlayar ke sekitar tanjung selatan benua Afrika, mengamankan rute-rute penting perdagangan, bahkan tanpa sengaja menemukan pantai Brazil dalam pencarian ke arah selatan. Portugal akhirnya sukses dan pembentukan daerah monompolinya sendiri dan memancing keukasaan maritim lain seperti Spanyol-Eropa, Perancis, Inggris dan Belanda untuk mengganggu posisinya. Karena tingginya nilai rempah-rempah di Eropa dan besarnya pendapatan yang dihasilkan, Belanda dan Inggris segera terlibat dalam konflik untuk mendapatkan monopoli atas wilayah ini. (http://malukuinstitute.org/mempertegas-ambon-sebagai-kota-niaga-berbasis-keberagaman/)
Bangsa Eropa pertama yang menemukan Maluku adalah Portugis, pada tahun 1512. Pada waktu itu 2 armada Portugis, masing-masing dibawah pimpinan Anthony d'Abreu dan Fransisco Serau, mendarat di Kepulauan Banda dan Kepulauan Penyu. Setelah mereka menjalin persahabatan dengan penduduk dan raja-raja setempat - seperti dengan Kerajaan Ternate di pulau Ternate, Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng di Pikaoli, begitupula Negeri Hitu, dan Mamala di Pulau Ambon. Namun hubungan dagang rempah-rempah ini tidak berlangsung lama, karena Portugis menerapkan sistem monopoli sekaligus melakukan penyebaran agama Kristen. Salah seorang misionaris terkenal adalah Francis Xavier.
Tiba di Ambon 14 Pebruari 1546, kemudian melanjutkan perjalanan ke Ternate, tiba pada tahun 1547, dan tanpa kenal lelah melakukan kunjungan ke pulau-pulau di Kepulauan Maluku untuk melakukan penyebaran agama. Persahabatan Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Peperangan dengan Sultan Babullah selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus angkat kaki dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.  (http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/portugis.html)

Keuning (1973: 14) menegaskan bahwa berdasarkan berita-berita orang Portugis ketika tiba di Ambon, telah terjadi pertentangan tradisional di antara kedua kelompok uli ini yang diakibatkan oleh pembagian dua (tweedeling) dalam struktur masyarakat. Kaum uli lima tinggal di bagian terbesar dari semenanjung Hitu (Leihitu), sedangkan Leitimor adalah daerah kaum uli siwa. Orang Portugis sendiri dalam pertentangan ini menurut Keuning, memainkan peranan sebagai pihak yang mempercepat pertentangan ini. Keuning juga menjelaskan bahwa uli lima di Hitu, sejak permulaan abad ke 16 sebagian besar sudah memeluk agama Islam. Walaupun demikian, masih banyak kepercayaan dan kebiasaan yang sudah berurat akar tetap bertahan di bawah selimut agama Islam yang baru itu. Sedangkan di Leitimor sebagai wilayah uli siwa pada zaman itu masih setia kepada keyakinannya yang lama. Penghormatan terhadap arwah nenek moyang adalah unsur penting dari agama Ambon yang lama

Peta Tujuh Negeri Uli Lima di Tanah Hitu

Keuning dalam bukunya Sejarah Ambon sampai pada akhir abad ke-17 (1973: 11-12), menjelaskan bahwa uli siwa (persekutuan sembilan) dan uli lima (persekutuan lima) dahulu dikenal di seluruh Maluku, dan masih terdapat di sebagian kepulauan ini pada masa kini. Keuning mengutip rekonstruksi Holleman, yang menjelaskan bahwa uli dapat disebut sebagai suku bangsa, yaitu suatu kelompok agak besar yang terdiri dari orang-orang yang merasa bahwa mereka adalah kesatuan tersendiri dan mengira berasal dari satu keturunan. Uli terdiri atas beberapa aman atau hena, suatu nama yang masih dikenal di negeri-negeri Islam. Aman atau hena merupakan suatu kelompok klen yang terdiri dari beberapa keturunan berdasarkan garis ayah/laki-laki (patrilinial) atau yang disebut rumah tau yang terdiri dari sejumlah keluarga yang hubungan keluarganya masih erat sekali.

Tiga Puluh Negeri Yang Tergabung dalam Tujuh Negeri Ulilima di Tanah Hitu
Belanda, ketika menyerang dan merebut benteng Portugis tersebut, dibantu oleh negeri-negeri dari uli lima dari jazirah Hitu yang beragama Islam, sedangkan dari Leitimor (uli siwa) hanya penduduk Nusaniwe dan Urimeseng yang memberi bantuan. Setelah Diego Barbudo datang membawa 22 kepala kampung (raja, orang kaya) dari negeri-negeri dari Leitimor, ia kemudian membawa sejumlah pemimpin lainnya dari pulau-pulau di sekitar Ambon, yakni Saparua, Haruku dan Nusalaut, untuk menyatakan kesetiaan mereka kepada Belanda. Sikap yang sama diajukan oleh para pemimpin dari Hitu, dengan pimpinan kapitan Hitu, dan uli lima lainnya (Leirissa, 2005: 24, 25). Berkumpulnya para pemimpin negeri-negeri dari uli siwa dan uli lima di pulau Ambon, dan dari pulau-pulau di sekitar Ambon, menjadi momentum bagi van der Haghen untuk mempersatukan para pemimpin tersebut, menciptakan perdamaian, sekaligus membawa keuntungan politik dan ekonomi baginya. Van der Haghen, dengan demikian berhasil menaklukan dan menguasai monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.


No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.