Wednesday, November 4, 2015

Mengurai Sumber Konflik Kronis antara Masyarakat Mamala dan Masyarakat Morela


Pendahuluan

Konflik berkepanjangan antara masyarakat negeri Mamala dan negeri Morela semakin sulit terlihat untuk diselesaikan. Perdamaian antara masyarakat kedua negeri sulit dipertahankan sejak pertama kali timbulnya pertikaian antara masyarakat kedua negeri sejak tahun 2006. Kondisi ini menimbulkan banyak kerugian di antara kedua negeri, baik dalam bentuk materil maupun jiwa. Jika ditelusuri penyebab dari konflik  pada masyarakat kedua negeri ini sebagian besar menyatakan adalah akibat kenakalan remaja/ pelajar dan pengaruh miras. Namun jika ditelusuri melalui pemberitaan media sosial  dan media cetak nampak sekali jika  tingkat ketegangan masyarakat kedua negeri meningkat pada saat menjelang Perayaan Tujuh Syawal. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah penyebab pertikaian kedua negeri ini disebabkan oleh penafsiran sejarah dan adat istiadat yang berbeda dengan adanya bukti peningkatan ekskalasi ketegangan psikologis antara kedua negeri yang jika dikonfirmasikan kepada masyarakat kedua negeri selalu menghindar dan selalu menyalahkan remaja kedua negeri yang nakal dan akibat miras. Dengan pertimbangan ini maka diperlukan upaya pengkajian pustaka untuk memastikan adanya hubungan antara kenakalan remaja/ pelajar yang selalu menjadi kambing hitam penyebab konflik berkepanjangan antara kedua negeri itu mempunyai hubungan yang erat dengan masalah sejarah dan adat istiadat kedua negeri yang sebenarnya sama, namun menjadi berbeda tanpa sebab yang masih perlu ditelaah lebih lanjut apa penyebabnya.

Sketsa hubungan antara Kenakalan Remaja dengan Perbedaan Pemahaman Sejarah, Adat dan Budaya Secara Sepihak

Pengertian Konflik

Secara etimologi, konflik (conflict) berasal dari bahasa latin configere yang berarti saling memukul. Menurut Antonius, dkk (2002: 175) konflik adalah suatu tindakan salah satu pihak yang berakibat menghalangi, menghambat, atau mengganggu pihak lain dimana hal ini dapat terjadi antar kelompok masyarakat ataupun dalam hubungan antar pribadi. Hal ini sejalan dengan pendapat Morton Deutsch, seorang pionir pendidikan resolusi konflik (Bunyamin Maftuh, 2005: 47) yang menyatakan bahwa dalam konflik, interaksi sosial antar individu atau kelompok lebih dipengaruhi oleh perbedaan daripada oleh persamaan. Sedangkan menurut Scannell (2010: 2) konflik adalah suatu hal alami dan normal yang timbul karena perbedaan persepsi, tujuan atau nilai dalam sekelompok individu.

Hunt and Metcalf (1996: 97) membagi konflik menjadi dua jenis, yaitu intrapersonal conflict (konflik intrapersonal) dan interpersonal conflict (konflik interpersonal). Konflik intrapersonal adalah konflik yang terjadi dalam diri individu sendiri, misalnya ketika keyakinan yang dipegang individu bertentangan dengan nilai budaya masyarakat, atau keinginannya tidak sesuai dengan kemampuannya. Konflik intrapersonal ini bersifat psikologis, yang jika tidak mampu diatasi dengan baik dapat menggangu bagi kesehatan psikologis atau kesehatan mental (mental hygiene) individu yang bersangkutan. Sedangkan konflik interpersonal ialah konflik yang terjadi antar individu. Konflik ini terjadi dalam setiap lingkungan sosial, seperti dalam keluarga, kelompok teman sebaya, sekolah, masyarakat dan negara. Konflik ini dapat berupa konflik antar individu dan kelompok, baik di dalam sebuah kelompok (intragroup conflict) maupun antar kelompok (intergroup conflict).

Faktor – Faktor Penyebab Konflik pada Remaja

Terdapat beberapa teori yang dapat digunakan untuk memahami sumber konflik di kalangan pelajar, diantaranya a) social learning theory, b) social identity theory, dan c) reputation enhancement theory. Menurut Sarlito Wirawan Sarwono (2006: 23), dalam kehidupan manusia ada dua jenis belajar yaitu belajar secara fisik dan belajar psikis. Belajar sosial termasuk dalam belajar psikis dimana seseorang mempelajari perannya dan peran orang lain. Selanjutnya orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya sesuai dengan peran sosial yang telah dipelajari itu. Cara yang sangat penting dalam belajar sosial adalah tingkah laku tiruan (imitation).

Menurut Dollard et.al (1939: 35), terdapat tiga mekanisme tiruan, yaitu: 1) Tingkah laku sama (same behavior), yakni apabila dua orang mempunyai respon yang sama terhadap stimulus atau isyarat yang sama; 2) Tingkah laku tergantung (matched dependent behavior), yakni salah satu pihak akan menyesuaikan tingkah lakunya (match) dan akan tergantung (dependent) kepada pihak lain yang dianggap lebih pintar, lebih tua, atau lebih mampu; 3) Tingkah laku salinan (Copying) yakni si peniru bertingkah laku atas dasar tingkah laku modelnya.

Sedangkan Bandura dan Walters (Sugihartono, 2007: 101) mengemukakan bahwa tingkah laku tiruan merupakan suatu bentuk asosiasi suatu rangsang dengan rangsang lain. Si peniru akan melakukan tingkah laku yang sama dengan tingkah laku model.

Sesuai dengan social learning theory ini, seseorang seringkali terdorong untuk mencontoh perilaku orang lain. Pencontohan perilaku (modelling) ini berlaku untuk perilaku yang baik maupun yang tidak baik. Seorang remaja yang melihat suatu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa dapat mencontoh tindakan tersebut untuk kemudian mempraktekkannya dalam bentuk tindakan kekerasan baik terhadap teman sebaya maupun lingkungan sekitarnya. Contoh lain dari pandangan social learning theory ini adalah tentang kemungkinan adanya pengaruh dari media massa, seperti televisi. Tayangan kekerasan yang terdapat pada tayangan televisi atau film dapat berpengaruh negatif terhadap remaja.

Hogg & Abrams (Bunyamin Maftuh, 2005: 83) yang mengembangkan social identity theory menggambarkan perilaku individu di dalam dan antar kelompok dapat dijelaskan berdasar keanggotaan mereka dalam kelompok sosial tertentu dan proses identifikasi di dalam kelompoknya. Hogg & Abrams mengklaim bahwa identitas kelompok sosial mempengaruhi identitas diri dan konsep diri individu. Berdasarkan teori ini dapat kita ketahui bahwa pelajar yang terlibat konflik antarkelompok seperti tawuran dikarenakan mereka ingin mengidentifikasi diri mereka dan kelompok mereka, mereka bertujuan untuk melindungi nama baik dirinya dan nama baik kelompoknya

Teori peningkatan reputasi (reputation enhancement theory) yang dikembangkan oleh Emler dan Reicher (Bunyamin Maftuh, 2005: 84) menjelaskan perilaku individu dalam hubungan dengan individu lain dalam satu kelompok, dimana tiap individu berusaha untuk mempunyai reputasi yang baik di hadapan teman-teman kelompoknya. Jadi menurut teori ini, keterlibatan pelajar dalam setiap aksi konflik merupakan salah satu upaya mereka untuk berusaha mendapatkan reputasi baik di mata teman-teman satu kelompoknya.

Dari berbagai macam teori tersebut di atas, dapat kita ketahui bahwa sumber atau penyebab konflik pada pelajar sangat bervariasi. Satu macam konflik mungkin saja berawal dari sumber yang berbeda, sehingga metode penanganan yang diberikan juga berbeda.


Individu & Identitas Sosial

Manusia sebagai pribadi tidak dirumuskan sebagai suatu kesatuan individu saja tanpa sekaligus menghubungkannya dengan lingkungan sekitarnya. Kita tidak dapat membugkusnya ke dalam satu kesatuan individu saja, yang tidak pernah bersinggungan dengan lingkungan. Ketika kita membicarakan identitas di situ juga kita membicarakan kelompok. Buat Verkuyten, gagasan tentang identitas adalah hubungan antara individu dengan lingkungannya (Verkuyten, 2005). Adanya identitas dapat lebih memudahkan manusia menggambar keberadaan sesuatu sehinga dapat memberikan kemudahan manusia untuk bertindak.

Suatu kepribadian akan menjadi kepribadian apabila keseluruhan sistem psikofisiknya temasuk bakat kecakapan dan ciri-ciri kegiatannya menyatakan sebagai kekhasan dirinya dalam penyesuaian dirinya dengan lingkungannya. Kepribadian individu, keahlian individu, ciri-ciri akan dirinya baru akan ketahuan kepribadiannya ketika sudah melakukan interaksi dengan lingkungannya. Individu memerlukan hubungan dengan lingkungan yang menggiatkannya, merangsang perkembangannya, atau memberikan sesuatu yang ia perlukan. Tanpa hubungan, individu bukanlah individu lagi (Gerungan, 2004).

Karena Manusia tidak hidup sendiri tetapi hidup bersama dalam masyarakat dan lingkungannya, makanya Identitas terbentuk. Ini karena manusia butuh pengenalan diri. Identitas juga hadir biar manusia dapat saling mengenal sesama dan dapat membedakan sesama. Tajfel mendefinisikan Identitas sosial sebagai pengetahuan individu dimanadia merasa sebagai bagian anggota kelompok yang memiliki kesamaan emosi serta nilai (Tajfel, 1979).[10] Identitas sosial juga merupakan konsep diri seseorang sebagai anggota kelompok (Abrams & Hogg, 1990). Identitas bisa berbentuk kebangsaan, ras, etnik, kelas pekerja, agama, umur, gender, suku, keturunan, dll. Biasanya, pendekatan dalam identitas sosialerat kaitannya dengan hubungan interrelasionship, serta kehidupan alamiah masyarakat dan society(Hogg & Abrams, 1988). Kemudian, pendekatan identitas sosial juga mengamati bagaimana kategori sosial yangada dalam masyarakat ternyata tidak terbentuk secara sejajar, tapi juga menimbulkan status sosial dan kekuasaan.

Identitas sosial sebagai teori tidaklah berangkat dari kekosongan lalu terbentuk begitu saja menjadi teori yang mengisi bidang psikologi sosial. Teori identitas sosial adalah evolusi teori yang keluar dari teori kategosisasi sosial. Teori kategorisasi sosial sendiri diperkenalkan oleh Tajfel tahun 1972. Teori identitas sosial adalah teori yang dikembangkangkan setelah Tajfel melihat kategorirasi yang dilakukan individu melekatkan juga nilai-nilai di dalamnya pada kelompoknya dalam menilai kelompok lain.

 Pembahasan

Konflik mengandung spektrum pengertian yang sangat luas, mulai dari konflik kecil antar perorangan, konflik antar keluarga sampai dengan konflik antar kampung dan bahkan sampai dengan konflik masal yang melibatkan beberapa kelompok besar, baik dalam ikatan wilayah ataupun ikatan primordial. Konflik horisontal yang dimaksudkan adalah konflik antar kelompok masyarakat yang disebabkanoleh berbagai faktor seperti ideologi politik, ekonomi dan faktor primordial.

Konflik masal tidak akan terjadi secara serta merta, melainkan selalu diawali dengan adanya potensi yang mengendap di dalam masyarakat, yang kemudian dapat berkembang memanas menjadi ketegangan dan akhirnya memuncak pecah menjadi konflik fisik akibat adanya faktor pemicu konflik. Oleh karenanya dalam rangka penanggulangan konflik, yang perlu diwaspadai bukan hanya faktor-faktor yang dapat memicu konflik, namun juga yang tidak kalah pentingnya adalah faktor-faktor yang dapat menjadi potensi atau sumber-sumber timbulnya konflik.

Pemicu konflik adalah peristiwa, kejadian atau tindakan yang dapat menyulut sumber potensi konflik yang nyata. Tanpa adanya sumber potensi konflik, pada umumnya peristiwa yang terjadi di suatu lokasi mudah diselesaikan dengan capat dan tanpa menimbulkan dampak yang luas. Sebaliknya di lokasi yang memang sudah ada endapan potensi konflik, peristiwa kecil dapat dengan cepat meluas dan melibatkan konflik masl yang sangat sulit diatasi. Dengan demikian pemicu konflik pada dasrnya dapat berupa peristiwa gangguan keamanan yang biasa atau bahkan sangat sederhana, namun akibat dari adanya kaitan dengan potensi yang mengendap tersebut, maka peristiwa kecil justru sering dimanfaatkan oleh provokator untuk menyulut konflik yang besar.

Terdapat beberapa teori yang dapat digunakan untuk memahami sumber konflik di kalangan pelajar, diantaranya a) social learning theory, b) social identity theory, dan c) reputation enhancement theory. Menurut Sarlito Wirawan Sarwono (2006: 23), dalam kehidupan manusia ada dua jenis belajar yaitu belajar secara fisik dan belajar psikis. Belajar sosial termasuk dalam belajar psikis dimana seseorang mempelajari perannya dan peran orang lain. Selanjutnya orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya sesuai dengan peran sosial yang telah dipelajari itu. Cara yang sangat penting dalam belajar sosial adalah tingkah laku tiruan (imitation).

Menurut Dollard et.al (1939: 35), terdapat tiga mekanisme tiruan, yaitu: 1) Tingkah laku sama (same behavior), yakni apabila dua orang mempunyai respon yang sama terhadap stimulus atau isyarat yang sama; 2) Tingkah laku tergantung (matched dependent behavior), yakni salah satu pihak akan menyesuaikan tingkah lakunya (match) dan akan tergantung (dependent) kepada pihak lain yang dianggap lebih pintar, lebih tua, atau lebih mampu; 3) Tingkah laku salinan (Copying) yakni si peniru bertingkah laku atas dasar tingkah laku modelnya.

Sedangkan Bandura dan Walters (Sugihartono, 2007: 101) mengemukakan bahwa tingkah laku tiruan merupakan suatu bentuk asosiasi suatu rangsang dengan rangsang lain. Si peniru akan melakukan tingkah laku yang sama dengan tingkah laku model.

Sesuai dengan sketsa potensi konflik antara masyarakat negeri Mamala dan negeri Morela, maka dapat dipastikan anak remaja yang merupakan penyebab dari konflik berkepanjangan ini,  terbentuk oleh adanya potensi konflik terpendam selama puluhan tahun, yang kemudian memanas menjadi koflik fisik sesuai dengan formulasi dari Hogg & Abrams (Bunyamin Maftuh, 2005: 83) yang mengembangkan Social Identity Theory menggambarkan perilaku individu di dalam dan antar kelompok dapat dijelaskan berdasar keanggotaan mereka dalam kelompok sosial tertentu dan proses identifikasi di dalam kelompoknya. Hogg & Abrams mengklaim bahwa identitas kelompok sosial mempengaruhi identitas diri dan konsep diri individu. Berdasarkan teori ini dapat kita ketahui bahwa pelajar yang terlibat konflik antarkelompok seperti tawuran dikarenakan mereka ingin mengidentifikasi diri mereka dan kelompok mereka, mereka bertujuan untuk melindungi nama baik dirinya dan nama baik kelompoknya.

Identitas sosial berusaha untuk medefinisikan dan mengenal pemilahan dan penetapan. Setidaknya ada tiga komponen dasar bagi manusia untuk memilah dan menetap dari suatu identitas (Wenholt, dalam Verkueyten, 2005); pertama,komponen struktur sosial. dalam kehidupan sosial selalu ada klasifikasi sosial orang ke dalam suatu kategori atau kelompok. Telah sama-sama dijelaskan bahwa kategosrisasi sosial adalah dasar berpijak bagi seseorang dalam proses identitas dan hubungan antar kelompok. orang bisa saja diklasifikasikan ke dalam kategori jenis kelamin, umur, etnik, ras, budaya, dll. Yang kedua adalah komponen budaya, atau tingkah laku dan konsekuensi normatif yang diterima. Komponen budaya adalah kategori seseorang dalam prakteknya yang sudah berlangsung terus menerus. Kategorisasi sosial belumlah bisa memperkenalkan seseorang kepada identitas sosial. komponen kedua ini dibutuhkan untuk melihat bagaimana seseorang itu bertindak, apakah memang tindakan yang dilakukan sesuai juga dengan norma kelompoknya. Dan tentu saja tingkah laku dapat mereferensikan seseorang dari kelompok mana dia berasal.

Lalu ketiga adalah definisi ontologis. Label dari kategori sosial itu kuat bukan hanya berasal dari tingkah lakunya, tetapi juga berasal daricara anggota dari suatu kategori (bisa kelompok, etnik, dll) itu melihat. Komponen ketiga ini, definisi ontologi, mencoba mengungkapkan orang lewat nilai alamiah orang tersebut dikategorisasikan. Komponen ini pun berangkat dari pernyataan yang sangat mendasar bahwa memang itulah dia, dan dia tidak bisa menyangkal karena identitas ini memang menceritakan sesuatu tentang dirinya, tentang seperti apa dirinya. Hal tersebut memang menceritakan seseorang seperti apa (Verkuyten, 2005: 44-47).

Simpulan

Dengan meningkatnya ketegangan dan memanasnya hubungan antara masyarakat kedua negeri menjelang acara pukul sapu saat menjelang hari raya tujuh Syawal membuktikan jika sumber konflik antara kedua negeri ini berkaitan erat dengan masalah perbedaan menafsirkan sejarah dan adat istiadat masyarakat kedua negeri.  Pembentukan opini sejarah secara sepihak tanpa disertai dengan referensi yang valid berperan erat dalam menyuburkan tumbuhnya potensi konflik dari masa ke masa.



No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.